Tepat seminggu yang lalu aku ke Islamic Book Fair (IBF) di Istora Senayan.
Agak memaksakan diri sih. Padahal sisa lelah setelah lembur seminggu penuh belum juga habis.
Hanya aku teringat janji pada Kakak Iparku dua minggu sebelumnya, untuk membelikannya buku sebagai hadiah ulang tahunnya awal Maret lalu.
Agak memaksakan diri juga, terutama karena hari itu adalah hari terakhir IBF 2010, walaupun sebenarnya aku sedang tidak berhasrat membeli buku. Dan beginilah aku, ketika tidak ingin membeli buku, maka buku apapun menjadi tidak menarik buatku.

Sehabis shalat dhuhur aku bersiap-siap berangkat dengan menggunakan pakaian seadanya. Rok dan kaos gombrang yang tidak perlu kuseterika dulu sebelum kupakai, dan kerudung langsung seadanya.
Siang ini hawa cukup panas, sehingga akhirnya aku memutuskan naik taxi saja ke tempat tujuanku. Untuk keluar rumah di cuaca sepanas ini saja butuh ekstra perjuangan, ah … tak sanggup rasanya kalo harus menambah perjuangan dengan naik bemo, lanjut dengan minibus, plus jalan kaki sebelum sampai ke Istora.

Sesampainya di Istora, tidak menyangka tempat itu akan begitu padat. Jangankan untuk melihat-lihat buku di setiap stand, untuk berjalan pun susah. Berdesak-desakan membuat hawa di dalam ruang pameran ber-AC itu tidak kalah panas dengan hawa di luar ruangan.
Walaupun aku belum tahu buku apa yang akan kubeli, tapi sedikitpun aku tidak berniat menyambangi setiap stand untuk melihat buku apa yang dijual disana. Perhatianku terfokus pada papan nama di bagian atas stand, mencari-cari penerbit buku yang kukenal.

Sampai akhirnya aku menemukan stand salah satu penerbit buku Islam yang cukup terkenal. Baru lah aku tertarik untuk masuk dan melihat-lihat, siapa tahu menemukan buku yang menarik hati.
Tak sampai setengah jam disana aku sudah tak tahan untuk segera keluar stand. Dalam waktu kurang 15 menit aku sudah memilih 6 buah buku yang sekilas saja kubaca judul dan resensinya di bagian belakang sampul buku. Tiga buah buku untuk Kakak Iparku, ketiganya berhubungan dengan kehidupan berkeluarga. Dan tiga buku untuk koleksiku. Keenam buku itu kusambar saja dari raknya dengan hanya melihat siapa penulis dan penerbitnya.
Tiga buku yang kubeli untukku sendiri adalah buku dengan isi yang sangat ringan. Hanya butuh niat untuk membaca tanpa harus mengerahkan tenaga ekstra untuk memahaminya. Yak…begitulah kecenderungan jenis bacaanku akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk tidak membeli buku-buku itu karena dengan mengetikkan suatu kata kunci di google saja, akan bermunculan bacaan-bacaan ringan semacam itu di internet milik para blogger atau penulis lainnya. Tapi, aku merasakan sensasi berbeda antara membaca dari buku dengan membaca dari sumber internet. Ada kepuasan lebih ketika aku membaca dari buku-buku yang kubeli.
Dan hingga saat ini, tiga buku itupun sudah selesai kubaca.
Alhamdulillah … tunggu resensinya yaaa … 