Tau tak? Dalam banyak kesempatan aku merasa lebih nyaman sendiri.

–          Kelas 3 SMA, aku lebih banyak pesiar sendiri (walaupun sebenarnya ga boleh lhooo…). Kenapa? Bisa jalan sendiri, fokus pada tujuan sendiri, ga melulu ngekor temen (karena seringan kalo pesiar bareng temen, mesti aku yang ngekor dia, bukan sebaliknya).

–          Aku suka menulis diary, dan bisa asyik sendiri dengan diaryku selama berjam-jam tanpa menghiraukan aktivitas di sekitarku. Aku merasa nyaman ketika ada ‘orang’ lain yang mendengarkan apapun yang aku utarakan.

–          Memasuki masa kuliah, aku semakin sadar aku suka sendiri. Aku akan mengunci diri di kamar kostku dan tidak menyahut panggilan teman-teman sebelah kamarku, ketika aku ingin sendiri.

–          Ketika mulai merasa bosan di kamar, aku akan pergi ke suatu tempat. Sekedar berjalan, tanpa perhatian yang fokus pada satu arah, melihat sekeliling, memerhatikan orang-orang, atau mampir di satu tempat makan, tanpa teman….karena aku ingin sendiri.

–          Bahkan ketika ada orang lain didekatku pun, aku bisa menyibukkan diri dengan kegiatanku sendiri, tanpa terlalu menanggapi apa yang mereka lakukan, ketika aku ingin sendiri.

Aku menikmati waktu-waktu sendiriku. Ketika aku bisa melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Ketika aku bisa pergi kemanapun tanpa ada orang yang menghalangi.

Tapi …

Ga selamanya aku begitu…
Ada saat dimana aku membutuhkan banyak orang di sekitarku.
Yang membuat keramaian saat hatiku kosong.
Yang mendengarkan apapun yang aku bicarakan.
Yang menguatkan niatku untuk melakukan suatu pekerjaan.
Yang memotivasiku ketika aku jatuh.
Yang bersedia berbagi ketika aku butuh.
Yang menghiburku ketika aku terpuruk.
Aku bahagia memiliki banyak orang di sekitarku.

Tapi, jangan ganggu aku, ketika aku ingin sendiri!

*Sampai akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri. Ada Dia yang bahkan lebih dekat dari urat leher :)