Aku punya adik, laki-laki, kuliah di Yogya, semester 1 (angkatan 2008), jurusan Akuntansi (juga).

Yak, aku baru menemukan dan mencoba memahami beberapa karakternya yang selama ini tersamarkan oleh ‘diam’nya.

Ya, penampakannya pendiam, seperti aku yang dilihat melalui kacamata orang-orang yang tidak begitu mengenalku.

Tapi, di balik itu …

Dia berani …

… memutuskan. Tahun ini seharusnya menjadi tahun kedua dia kuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di Yogya, tapi keputusannya, hampir setahun yang lalu, membuatnya harus rela menjadi mahasiswa tingkat pertama (lagi) di universitas (swasta) lain. 

Dalam hal ini, dia lebih berani daripada aku, yang bahkan harus berpikir ber-‘banyak kali’ untuk memutuskan satu hal, “resign atau tidak?”

Dia mandiri …

Bagus kan!? Dia ‘terlalu malu’ untuk terus menyusahkan orangtua. Mau bekerja, “Biar ga minta terus sama si Mamah,” katanya. Tapi justru membuatku khawatir, karena seharusnya kuliah adalah kuliah, tidak sambil bekerja.

Dalam hal ini pun, aku tertinggal jauh di belakang dia. Selama kuliah aku sangat bergantung sama Bapa. Apalagi setelah sadar sepenuhnya, bahwa Bapa ga pernah mengatakan ‘TIDAK’ untuk apapun yang aku inginkan.

Dia nekad …

Gimana ngga dibilang nekad kalau dia sampai menggadaikan surat berharga yang dimilikinya untuk mendapatkan sedikit modal usaha yang dirintis bersama teman-temannya? Itu NEKAD BANGED! Apalagi setelah tau, dia melakukannya tanpa sepengetahuan Mamah dan Bapa.

Jelas!!!! Ini udah jauh dari karakterku. Si Puput, pemain handal di zona aman dan nyaman belum tentu mampu dan mau melakukannya.

Seharusnya dia tidak senekad itu. Sampai aku berpikir, “Biar gw aja yang ngasih dia kerjaan … biar gw aja yang gaji dia … “, bukan sekedar gagasan, apalagi khayalan yang jauh mengawang-ngawang. Aku benar-benar akan melakukannya …

Tapi … pekerjaan apa yang cocok untuk adikku?