Hanya perasaanku saja mungkin?

Memang apa tujuan akhirku? Tiap-tiap orang bisa mengungkapkannya dengan kalimat yang berbeda, tapi semua pasti setuju bahwa pada akhirnya nanti manusia akan kembali kepada Allah, dan … itulah tujuan akhirku. Aku akan kembali kepada Allah, dan ketika saatnya tiba nanti, aku ingin kembali ke tempat terbaik di sisi-Nya.

Aku bahagia menjalani masa kuliahku. Masa dimana aku merasa berada pada titik terdekat dengan Allah. Ketika semua masalah terasa ringan karena sangat yakin selalu ada Allah bersamaku. Ketika aku selalu merasa cukup dengan apa yang aku miliki walau terbatas sekalipun.

Memasuki dunia kerja setahun yang lalu, aku menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dengan yang kualami di kampus dulu. Ternyata tidak semua orang berpandangan sama denganku, bahwa tidak semua orang memiliki tujuan akhir sepertiku.

Semua ingin sukses. Teman-teman kantorku ingin sukses, aku juga iya. Dan ternyata definisi sukses itu berbeda-beda bagi setiap orang. Yang aku dapati sekarang, begitu banyak orang menilai kesuksesan hanya dari materi yang dimiliki. Maka tidak heran ketika satu per satu temanku meninggalkan tempat kerjaku sekarang untuk mengejar kesuksesan di tempat lain, untuk mendapatkan pekerjaan ‘yang lebih baik’, yaitu pekerjaan yang menawarkan gaji yang lebih tinggi.

Berdasarkan pengamatanku itulah aku tahu isi kepala kebanyakan orang tentang makna kesuksesan. Dan aku menolak untuk dikatakan tidak setuju. Yang menjadi masalah adalah, aku berusaha menjadi seorang sukses berdasarkan ‘paradigma sukses’ kebanyakan orang itu. Yang terjadi saat ini adalah aku lebih banyak mengikuti kata orang tentang sukses daripada mengikuti kata hatiku sendiri.