Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir … aku berenang!!!
Yap … pada libur hari kedua tanggal 25 Desember kemarin, di Tirtamulya, Cimahi.

Hmm … jadi inget, gimana awalnya aku jadi suka olahraga air ini.

Dan itu terjadi sejak … lebih dari 8 tahun yang lalu.
Ya, saat itu aku masih kelas 3 SMP. Salah satu ‘gaya renang’ yang bisa kupraktikkan adalah, meluncur, juga salah satu gaya primitif yang bisa dilakukan semua orang, yaitu gaya batu.

Hingga pada suatu hari, ketika aku memutuskan mendaftar ke TN, Mamah mendapat cerita bahwa ada tes renang untuk bisa masuk kesana. Ugh … aku kalah telak bahkan sebelum bertanding ketika mendapat kabar itu.
Maka, Mamah mencarikanku seorang pelatih renang. Aku ga pernah tahu, gimana ceritanya hingga akhirnya aku dikenalkan pada seorang pelatih renang yang juga penjaga kolam renang di Sanggariang, kolam renang plus klub renang, yang berada beberapa ratus meter dari sekolahku.
Dan, tahu? Jujur saja, latihan renang adalah kegiatan yang paling membuatku tertekan diantara kegiatan-kegiatan lain yang kuikuti di kelas 3 SMP. Aku benci ketika ada dua hari dalam seminggu yang harus aku isi dengan latihan renang. Aku benci karena aku tidak bisa berenang, dan aku semakin benci ketika dalam beberapa pertemuan, hasil latihanku tidak menampakkan kemajuan.

Selama beberapa pertemuan, aku hanya meluncur dan meluncur melintasi lebar kolam yang dalamnya bisa menenggelamkanku itu.
Dan gaya renang pertama yang diajarkan oleh pelatihku saat itu adalah gaya dada.
Aku benci ketika aku tidak bisa melakukan gaya itu.
Berkali-kali, dalam beberapa pertemuan, tetap tidak bisa.
Maka ketika pada pertemuan berikutnya pelatihku mengajarkan gaya bebas, dan aku bisa, secercah harapan pun muncul, “Ya … aku bisa melakukannya!”
Selama beberapa pertemuan selanjutnya, aku terus ‘memperdalam’ gaya bebasku, dan aku bisa, walaupun hanya melintasi lebar kolam.
Pelatihku tidak puas sampai disana, hingga pada suatu hari, dia menantangku melintasi panjang kolam.
Heeehhh… aku melepaskan nafas panjang, sambil menatap ke sisi seberang kolam yang tampak jauh disana.
“Oke …”, akhirnya aku menyanggupi.
Dan, tahu tidak teman? Ketika kita yakin bisa, maka kita akan benar-benar bisa. Ya … aku bisa melintasi panjang kolam itu.

Sejak saat itu, aku menyukai renang. Itulah alasanku mengapa waktu kelas 1 SMA ketika diminta memilih salah satu ekskul olahraga, dengan mantapnya aku memilih renang, dengan harapan, aku bisa berenang setidaknya satu kali dalam seminggu.
Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, karena pada kenyataannya renang seminggu sekali itu tidak pernah ada.
Salah satu hal yang paling kusesali selama di TN adalah … memilih ekskul renang sebagai ekskul pilihan olahraga.
Seandainya aku tahu, renang seminggu sekali itu hanya harapan tanpa kenyataan, sejak awal aku pasti lebih memilih basket dan menjadi tim inti yang memperkuat pasukan angkatanku, seperti yang kulakukan selama dua tahun di SMP.