Tiba-tiba ingin kembali ke masa lalu, ke masa SD dan SMP-ku dulu ketika surat menyurat dengan teman-teman, yang bahkan diantaranya tidak kukenal, menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Kenangan tentang hal itu tiba-tiba muncul di tengah-tengah training yang tidak membosankan sebenarnya, hanya membuat sebagian dari peserta (termasuk saya tentu saja) mengantuk dan tidak berkonsentrasi pada materi yang disampaikan pembicara.
Untuk mengalihkan kantuk, beberapa kali saya mulai menyusun ‘draft’ yang akan saya posting di blog, tapi setiap ‘draft’ itu tidak pernah selesai, hmm..sedang berada pada titik mandek, saat semua ide di kepala sangat susah dituangkan secara tertulis. Sementara, saya merasa menulis itu penting, apalagi ketika merasa tidak ada seorang pun yang bisa menanggapi isi kepala saya atau seenggaknya mendengarkan curhatan-curhatan ga penting saya.
Ketika saya terbangun lagi setelah terkantuk-kantuk bahkan tertidur untuk ke….sekian….kalinya, tiba-tiba teringat kebiasaan lucu masa SD, sampai membuat saya sesekali tersenyum … geli.
Gimana ngga geli, kebiasaan waktu kelas 1 SD itu memang … lucu, dan … menyenangkan.

Pada satu hari, saya mulai menulis beberapa surat yang saya sampaikan ke beberapa teman main di kelas. Isinya bisa ditebak, isi kepala anak SD:

Kepada Ytc. Ani
dimanapun berada

Salam manis…..
(Selalu dimulai dengan salam manis atau salam-salam lainnya. Kata-kata pembuka semacam itu bagai kata-kata wajib dan ajaib yang harus selalu ada)

Hai Ani, apa kabar? Semoga kamu sekeluarga selalu dalam keadaan baik, tidak kurang suatu apapun. Sama halnya denganku, saat menulis surat ini dalam keadaan sehat-sehat saja.
(Pembukaan surat yang itu-itu saja. Selalu dimulai dengan menanyakan kabar teman penerima surat dan keluarganya. Basa-basi…hehe)

. . . . .
(Selanjutnya isi surat. Isinya lebih fleksibel, dan disinilah proses menuangkan ide dalam bentuk tulisan terjadi)

. . . . .
(Sebelum ditutup, beberapa pertanyaan sengaja ditujukan pada si penerima surat. Tujuannya PASTI, agar surat kita berbalas)

Ani, udah dulu ya surat dari aku. Udah malam nih, mau tidur dulu. Jangan lupa dibalas ya. Bye.
(Penutup surat. Kalimat wajib dan ajaib yang harus ada adalah “Jangan lupa dibalas ya”)

Burung Irian, Burung Cendrawasih
Cukup Sekian dan Terima Kasih

(Aiiiiihhhh….kata-kata mutiara ini yang paling ajaib)

Salam,

Puput

Surat itu kemudian akan kusalin di beberapa kertas lain dengan hanya mengganti nama subjek penerima. Lalu, kulipat dengan lipatan sederhana saja. Melipat sekitar 3cm bagian kiri kertas, kemudian melipat bagian panjang kertas beberapa kali, dan memasukkannya ke dalam amplop cap pesawat terbang yang bergaris pinggir merah biru.

Tidak lupa, nama tujuan kutulis:

Buat Ani
di kelas 1 SDN 1

Dan tentu saja namaku di bagian belakang amplop:

Sip: Puput

Besok paginya, surat itu akan saya ‘antar’ ke tiap-tiap alamat yang dituju.

Buat…
Ani yang duduk di bangku sebelahku…
Dede teman sebangkuku…
Dewi yang duduk agak di pojok kelas…
atau Mira yang duduk dua bangku di belakangku.

Saat yang paling kunantikan adalah ketika surat-surat itu berbalas, biasanya selang sehari saja dari tanggal ‘pengiriman’ surat.
Dan beginilah (biasanya) balasannya:

Hai juga Puput. Keadaanku dan keluargaku baik-baik saja. Syukurlah kalau kamu juga dalam keadaan sehat walafiat.
(Kalimat pertama selalu berkaitan dengan kabar)

dst … dst …

Surat selalu mengikuti pola yang sama.
Tapi yang paling menarik tentu saja bagian isi surat. Di bagian ini lah aku bertukar cerita dengan teman-temanku. Dan walaupun kami bertemu tiap hari di kelas, tidak ada di antara kami yang membicarakan isi surat, seolah-olah pertemanan kami di kelas dan di surat adalah dua hal yang berbeda.
Dan kebiasaan itu lama-lama hilang … mungkin karena kami mulai sibuk dengan kegiatan main masing-masing.

Dan kenangan akan kebiasaan itu muncul kembali ketika otak ini mandek.

Kayak efek di film-film kartun. Tiba-tiba ada sebuah bola lampu menyala di kepala.

“Ah ya … Kenapa tidak mulai dengan mengirim surat ke beberapa teman? Balasan dari mereka adalah pancingan buat saya untuk menulis, untuk menceritakan apa yang ingin saya ceritakan. Seperti yang saya lakukan dengan teman-teman masa kecil saya. Saat semua hal kecil bisa diceritakan sebebas-bebasnya walaupun hanya dalam beberapa kalimat sederhana.”

Semakin bertambah usia, ternyata tidak membuat saya menjadi lebih pintar dari anak kelas 1 SD :p

Message sent