Lidahku sudah terbiasa mengucapkan, “Semoga aku menemukan pekerjaan yang lebih baik”
Lalu seseorang akan mengaminiku.
Dan … selanjutnya, rutinitas akan berjalan seperti biasa, tanpa pengaruh dari kalimat yang sudah sering kuucapkan itu.
Tapi, perasaanku malam ini berbeda ketika seseorang mengamini keinginanku untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Entah mungkin karena pengaruh bacaanku tadi siang, tentang ‘Lentera Jiwa’-nya Andi Noya.

Alangkah bahagianya menjadi seseorang yang hari-harinya terang oleh lentera jiwa-nya. Hari-hari yang diisi dengan pekerjaan yang bukannya membebani, malah justru membuatnya bahagia ketika mengerjakannya.
Dan dengan sepenuh hati aku sadar, Aku Belum Menemukan Lentera Jiwaku.

Masalah terbesarnya adalah, aku belum berani memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku sekarang karena di luar sana aku tidak menangkap setitik cahaya pun yang menjadi petunjuk keberadaan lentera jiwaku.
Saat ini, hanya ada satu hal yang menjadi pedomanku dalam mencari lentera jiwaku.
Lentera itu harus bisa membebaskanku untuk memiliki lebih banyak waktu … untukku sendiri …
Membebaskanku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain yang kusukai di luar pekerjaan formalku.

Jika dari awal aku sadar pekerjaan ini bukanlah yang aku inginkan, lalu apa yang membuatku bisa bertahan sejauh ini?

1. Tentang ‘kesempatan’. Kesempatan bekerja di salah satu kantor akuntan publik terbesar di tingkat global membuatku berpikir untuk tidak melepaskan kesempatan ini.

2. Pikiranku tentang banyaknya ilmu yang akan kudapatkan jika mengambil ‘kesempatan’ ini, adalah alasanku yang kedua.

3. Teman-teman seangkatanku di SMA membawa pengaruh besar juga dalam hal ini. Dari sekian banyak lulusan akuntansi di angkatanku, hanya segelintir orang (tepatnya 3 orang, jika tidak bertambah) yang memilih profesiku saat ini sebagai langkah pertama memasuki dunia kerja. Dan aku pernah menargetkan untuk bertahan di pekerjaan ini hingga 2012. Tapi itu berarti aku harus bertahan tiga tahun lagi … huufffh. Taruna Nusantara … sejak pertama aku menginjakkan kakiku disana, aku sadar betapa besar pengaruhmu pada keputusan-keputusanku.

4. Targetku sendiri telah menahanku disini. “Bertahanlah sampai senior!”. Hanya ada dua alasan yang akan membuatku pindah dari tempat ini, pertama, menikah, sehingga aku harus mencari pekerjaan lain yang memberi lebih banyak waktu luang untukku dan keluargaku, kedua, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Kadang merasa heran dengan diriku sendiri, aku memelihara keraguan dalam hatiku tentang pekerjaan ini yang bertolak belakang dengan target yang kubuat sendiri.

5. Target paling konyol yang pernah kubuat berkaitan dengan pekerjaanku adalah … aku ga akan pindah sebelum mendapat penugasan ke luar kota, atau lebih jauh lagi … luar pulau. Pada kenyataannya, manajerku tidak memiliki banyak klien luar kota, apalagi luar pulau. Kalaupun ada, sangat kecil kemungkinan aku di-assign kesana. Target konyol ini kubuat mengingat kenyataan, selama satu tahun di tempat kerja ini, belum pernah sekalipun aku mendapat penugasan ke luar kota yang benar-benar jauh dari Jakarta. Pasti kalian belum tahu … duluuu, salah satu alasanku memilih pekerjaan ini adalah bayanganku tentang kesempatan bepergian ke tempat-tempat yang jauh selama penugasan … dan itu tidak pernah terjadi padaku … hingga saat ini. Fiuuuhhh…

Ya Allah … baru kali ini aku merasa sebimbang ini.