Gimana nggak?
Senior dan manajer udah nagih-nagih dari kapan hari, sementara klien ga bisa kooperatif.
Serba salah…karena efeknya amat sangat kecil sekali ketika saya mencoba mem-push klien untuk segera memenuhi permintaan data saya.
Pernah suatu hari saya follow up data melalui telepon dari kantor, entah berapa kali dalam sehari saya nelpon ke kantor klien untuk menagih hal yang sama.
Belum lagi surat elektronik pun saya kirimkan, dan ketika sore itu saya menelepon lagi…untuk terakhir kalinya pada hari itu, si klien malah menjawab, “Gimana mau ngerjain, dikit-dikit nelpon, dikit-dikit minta”
Oke….saya ber-postive thinking saja kalo klien sedang menyelesaikan permintaan saya. Tapi beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, saat saya akhirnya memutuskan untuk menemui mereka langsung, data yang diminta sama sekali belum tersedia.
Hoho…belum pernah saya mengeluh masalah klien sampai hari ini. Tapi kejadian tadi pagi cukup membuat saya kesal sehingga cukup memberi saya energi untuk meluapkan emosi kekesalan saya.

Semalam saya menginap di hotel dekat kompleks industri.
Seperti biasa, mobil klien akan mengantarkan saya sampai depan pintu lobi hotel,
seperti biasa sebelum turun saya nitip pesan sama si Sopir, “Pak besok jemput jam sekian ya…”
seperti biasa, si Sopir akan mengiyakan sambil berkata, “Iya Mbak, nanti saya sampaikan ke yang jaga besok”
Tidak seperti biasa, malam itu saya meminta sopir menjemput saya lebih pagi. Jam setengah 8, bahkan sebelum jam kantor resmi klien dimulai.
Kenapa? Pekerjaan saya masih banyak. Semalam senior saya kembali menanyakan progress pekerjaan. Saya ga mau disalahkan, saya juga tidak ingin menyalahkan klien, karena nyatanya untuk menemukan nomor dokumen yang saya butuhkan perlu melakukan beberapa tahap, dari mulai men-sort daftar transaksi per perusahaan supplier, kemudian men-sort-nya lagi berdasarkan tanggal transaksi, baru kemudian ditemukan nomor dokumen yang dicari.
Saya merasa sudah cukup ‘membela’ klien dengan beralasan seperti itu ketika senior mempertanyakan, “Kok dari 103 transaksi baru 10 yang di-vouching? Berarti besok dateng lebih pagi ya?”
Okay….ga masalah…lagipula dari awal saya udah meniatkan buat pergi lebih pagi dari biasanya.

Maka pagi itu pun saya bersiap-siap lebih pagi dari hotel. Jam setengah 8 keluar kamar dan sarapan. Walaupun saya minta dijemput jam setengah 8, saya berkeyakinan si Penjemput pasti ngaret. Dan benar saja, saat sarapan saya habis kurang dari jam 8, mobil jemputan belum juga menampakkan diri.
Oke…saya masih sabar….saya tunggu sambil membaca buku yang baru saya beli dari bookfair tempo hari. Tak terasa waktu terus merambat, sesekali dari lobi hotel, saya menengok ke halaman hotel, “Siapa tahu mobil jemputan sudah datang”, pikir saya.
Sesekali saya melirik jam….kesal.
Ketika pada akhirnya, jam setengah 9 mobil jemputan belum juga datang, saya habis kesabaran.
Kuraih ransel saya kesal….saya berjalan mendekati pos satpam depan hotel dan menanyakan, “Ada angkutan buat masuk ke kompleks industri ga, Pak?”
“Paling ojek, Mbak”
“Ga apa-apa deh Pak, sebelah mana?”
Si Satpam pun menunjukkan jalan dimana saya bisa mendapatkan ojek.
Hati ini udah mangkel sepanjang perjalanan. Kesel….”Ga tau apa kerjaan gue masih banyak…minta dijemput jam setengah 8, eeehhh….setengah 9 belum juga dijemput. Mending kalo nyampe kantor gue tinggal kerja, lah ini mesti nunggu dulu datanya kelar, kalo gue ga dateng cepet-cepet, tuh data ga bakalan dikerjain….”, teruuuuuuusss menggerutu.

Duuhh….kalo udah kayak gini jadi desperado deh…
Intinya mungkin…..ga bisa saling memahami kerjaan masing-masing.
Saya ga ngerti kerjaan mereka….kenapa sepanjang hari bisa terlihat sangat sibuk, sampai permintaan data saya terbengkalai.
Di satu sisi, mereka juga ga ngerti kerjaan saya. Kadang apa yang saya lakukan dianggap sepele. Menurut mereka, “Kalau mau periksa dokumen cukup satu per bulan lah untuk transaksi yang sama, ga usah semuanya, percaya sama kita, kalau satu bener berarti yang lain juga bener”
Seandainya pekerjaan saya semudah itu Pak, maka dalam satu minggu pekerjaan saya sudah selesai, menaruh kepercayaan tinggi pada angka-angka laporan yang Anda buat, tanpa mempedulikan Professional Skepticism, tanpa perlu bertanya ketika menemukan hal-hal yang janggal….
Ah andai pekerjaan saya semudah itu…..

* Gambar dari sini