….tapi…apanya yang mau ditilang? Ga ada kendaraan kok, atau….pernah ada ga sih pejalan kaki yang ditilang?
Menurut info yang aku dapet dari Om Wiki sih ada “Kewajiban pejalan kaki untuk berjalan pada bagian jalan yang diperuntukkan baginya atau pada bagian jalan yang paling kiri bila tidak terdapat bagian jalan yang dimaksudkan dan menyeberang di tempat yang telah ditentukan.”….eh tapi ga dijelasin kok apa hukumannya, paling kalau kesalahannya udah sangat fatal, misalnya jalan kaki terlalu ke tengah jalan, hukumannya langsung dari Yang Di Atas. Innalillahi wa innailaihi rajiun… :p

Kenapa pengen ditilang???
Hayooo….naksir Polantas yang mana nih Put??
Kagak laahh…sebenernya gara-gara tadi sore abis diceritain Oya yang, untuk pertama kalinya, kena tilang pulisi beberapa hari yang lalu karena ngendarain motor tapi lupa bawa STNK. Ternyata seru juga pengalamannya, apalagi kalau aku yang ngalamin sendiri kali…hehehehe…
Ternyata eh ternyata masih “ada” ya….aku pikir udah “ga ada”, denda ditawar dari Rp40rb ampe Rp10rb, ampe akhirnya Oya memutuskan untuk ditilang aja dan ngurusin kasusnya ke Pengadilan. Padahal menurut Pasal 57 (2) Yo Psl. 14 (2) UULAJ Yo Psl 197 (1) & (3) PP 44/93 (ngutip dari Om Wiki nih yaaa….kalau aku salah ya salahin Om Wiki aja…hehehe…tapi InsyaAllah bener), mengemudikan kendaraan bermotor tidak dapat menunjukkan STNK atau STCK beserta BTCK dendanya Rp20ribu untuk sepeda motor.

Yang lebih seru pengalamannya waktu nunggu ‘sidang’, yang ngantri ternyata banyaaaaaaaaaaaaaakkkkk kali…eh..eh…disitu ada Pak Pul juga yang nawarin,

“Mbak, kalau ngga mau lama ngantrinya, Mbak dari sini lurruuuss aja, ntar belok kiri, ketemu sama Bapak2 yang badannya gedhe”, maksudnya??? Ternyata si Bapak Gedhe yang dimaksud itu calo…hahahaha…emang bakal lebih cepet sih prosesnya tapi bayarnya jadi lebih mahal, mungkin karena harus bagi-bagi sama Pengadilan dan Penunjuk Jalan barusan kali yak.

Prihatin banget deh….
Mungkin karena banyak yang pernah ngalamin hal yang serupa kayak gitu juga kali yaa…makanya masyarakat kebanyakan cenderung mendukung KPK dalam ‘perang’ antara cicak dan buaya…ada-ada aja istilahnya..hehe
Sampai di FB ada gerakan 1.000.000 facebookers mendukung Bibit-Chandra.
Akhirnya jumlah itu tercapai juga hari ini. Aku salah satunya? Nggak.
Kenapa? Aku ga tau kok yang mana yang mesti didukung. Aku ini ya ngga paham hukum…ga berani menghakimi salah satu pihak yang terlibat. Lagipula proses peradilan baru berjalan setengah jalan (atau belum sama sekali dimulai? Entahlah).
Selama ini aku nerima informasi dari dua pihak yang berlawanan. Temen-temenku banyak yang Polri, mereka punya argumennya sendiri, sementara aku juga banyak nerima informasi dari media yang seperti berat ke salah satu pihak. Jadi…ga mau ikut-ikutan deh. Tonton aja episode lanjutannya…atau sekuelnya…atau apalah….siapa yang mendapati ending yang happy. Atau dua-duanya akan hidup berdampingan happily ever after?
Berdoa yang terbaik aja buat Indonesia-ku….aku bangga jadi Indonesian….kecuali prestasinya yang hebat dalam ketidakpastian hukum.

*
Hingga di suatu kesempatan yang lain,
kembali Oya menyapaku di dunia maya….’membahas’ perkembangan kasus KPK Vs Polri.
“Jadi ga enak nih ngomong gini sama anak Tarnus, hehe…tapi gimana ya, aku belum nemu sesuatu yang membuatku merasa harus lebih mendukung Polri”, begitu salah satu kalimatnya.
“Nyantai aja lagi Ya…”
“Temen-temenmu di kepolisian gimana tuh? Ayo dong perbaiki citra kepolisian di mata masyarakat”
“Temen-temenku belum bisa berkontribusi banyak Ya”
“Oh masih anak bawang ya?”
“Iya…hehe”, jawabku.
“Semoga beberapa tahun ke depan ya Ya…..”
“Aminnn”

Huff…PR kalian bertambah teman-teman (TN yang Polri), masyarakat (dalam hal ini temanku) menaruh harapan besar pada kalian….
Semoga tidak mengecewakan (lagi).