Apa yang kamu pikirkan?
Aku hanya berkata dalam hati, “Nih orang kok gue bangeettt!”
Itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiranku ketika beberapa kali aku melihat seniorku grasak grusuk mencari sesuatu di dalam tasnya…
“Bentar deh Put, kunci mobil gue mana ya?”, sambil tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
Atau pada kesempatan yang lain…
“Eh gue udah masukin dompet ke dalam tas belum ya? Bentar Put, gue cari dulu…”. dengan setengah panik tangannya terus sibuk menjelajahi seisi tas.
“Handphone gue…jangan-jangan ketinggalan”, padahal dia hanya menaruhnya di dalam tas pada letak yang tidak semestinya.
Dan aku cuma bisa berkata dalam hati….”Ada juga orang kayak gue”.
Iya…kayak gue….yang seringkali harus mengeluarkan seisi tas untuk mencari kunci kamar, atau terpaksa harus menelusuri seisi kamar cuma buat nyari dompet.
Terlepas dari sifat pelupaku, itu adalah salah satu kebiasaan burukku. Menaruh barang pada tempat yang tidak semestinya.
Yang aku heran, aku seringkali lupa, dimana terakhir kali aku menaruh sesuatu, padahal barang itu baru kugunakan beberapa saat sebelumnya.
Dan betapa jengkelnya ketika menemukan barang-barang itu berada di tempat yang sebenarnya mudah dijangkau, di tempat tidur, tapi ketutupan selimut, di meja rias, tapi berbaur dengan benda-benda lain yang menyamarkannya, di dalam tas yang sehari sebelumnya kugunakan.
Kebiasaan buruk yang bisa dianggap sebagai kelemahan….ngapain pake diceritain disini? Kayak buka aib sendiri aja.
Hmm….ngga juga. Aku sedang dalam proses berubah kok, lagipula kebiasaan buruk ini bukanlah sesuatu yang membanggakan sehingga aku merasa harus menceritakannya disini.
Hanya ingin berbagi dengan banyak orang, bahwa kelemahan-kelemahan itu (ternyata!) bukan hanya aku yang mengalami :D, dan semua kelemahan itu pasti bisa diatasi.
Umm..misalnya mungkin dengan memberikan perhatian lebih untuk hal-hal kecil yang kulakukan. Karena sesuatu yang kecil itu tidak selalu berarti merupakan hal yang sepele kan?
Jadi…mulai saat ini….aku harus mengampanyekan program untuk diriku sendiri untuk….
berhenti lupa, sehingga di tengah makan aku tidak akan bertanya-tanya lagi, “Tadi udah baca doa sebelum makan belum ya?”
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus mengeluarkan seisi tas untuk memastikan dompetku sudah masuk ke dalam tas.
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus meminta data atau menanyakan hal yang sama ke klien sampai dua kali
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus balik ke rumah Mba Pew setelah ngangkot berkilo-kilo meter ‘hanya’ karena handphone ketinggalan, padahal saat itu aku lagi diburu-buru waktu.
berhenti lupa, sehingga aku tidak harus menggedor-gedor pintu tengah malam karena kunci kost tertinggal di kantor
berhenti lupa, sehingga aku tidak mesti ke kantor hari ini ‘cuma’ buat ngambil kunci yang pada akhirnya tertinggal lagi dan menginap dua hari di lokerku di kantor.
berhenti lupa…dan berhenti lupa untuk selalu berdoa, semoga Allah mendukung proses berhenti lupaku… :)