Inget ngga (pasti ngga!), di salah satu postingan, aku pernah bilang bahwa angka 27 itu pernah menjadi angka yang istimewa buat aku, sampai ada satu kejadian yang membuat angka itu sangat sangat tidak menyenangkan, baik dilihat atau sekedar didengar. Alasannya, kalau terpaksa harus diungkapkan disini, bisa dibilang, “Ngga banget…” hahaha…kenangan buruk masa-masa jahil zaman SMA dulu.

Tapi…tanggal 27 di beberapa bulan menjadi berkesan buat aku dengan adanya beberapa kejadian menyangkut aku atau orang-orang terdekatku. Tidak penting memang mengingat-ingat tanggal, karena sejarah atau kejadian apapun terjadi untuk kita ambil hikmahnya tanpa harus menghubung-hubungkannya dengan tanggal tertentu. Tapi apa salahnya, dengan mengingat satu tanggal saja aku bisa mengingat beberapa kejadian sekaligus yang mungkin bisa menginspirasiku di masa datang.

Dimulai dengan tanggal 27 Desember 6 tahun yang lalu aku pernah merasa telah dewasa karena bisa memutuskan dan merencanakan sendiri apa yang mungkin aku alami untuk beberapa tahun berikutnya. Satu tanggal yang diikuti oleh banyak kejadian yang sekaligus membuka banyak pintu hikmah, dengan satu hikmah utama bahwa, tidak ada cinta yang abadi selain cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah mencintaiku melebihi apapun, maka aku pun seharusnya mencintai-Nya lebih besar melebihi cintaku kepada siapapun.
Cukup jelas kan?

Hampir setahun yang lalu, 27 Oktober, hari pertamaku menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Satu hari yang bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari suatu fase kehidupanku yang baru yang bisa berarti segalanya untuk masa depanku. Hari itu aku merasa jauh dari Allah justru ketika aku butuh Dia dekat. Allah menegurku lewat nilai ujian yang…..jauh di bawah ekspektasi. Aku tidak kecewa….malah sangat bersyukur Allah mengingatkanku dengan caranya yang indah.

Sebulan kemudian, 27 November, satu mimpi kecilku tercapai. Hari itu adalah hari pertamaku menjejakkan kaki di sebuah kantor akuntan publik big four sebagai seorang staf baru. Lagi-lagi….pencapaian ini bukan akhir dari segalanya, hanya satu langkah kecil menuju mimpi-mimpiku selanjutnya.

Hampir setahun kemudian, tepatnya dua hari yang lalu, 27 September, kembali aku harus mencatat satu kejadian penting di tanggal 27 dengan adanya pernikahan seorang sahabatku. Satu kejadian yang tidak berkaitan langsung denganku, hanya sebagai pengingat bahwa dien-ku belumlah sempurna.

Dan, berbicara tanggal 27, tentu saja aku ga akan melupakan 27 April, tanggal lahir kakakku. Yang mana setiap orang pun memiliki satu tanggalnya sendiri setiap tahun, yang diperingati dengan berbagai cara. Merayakan bertambahnya usia? Atau memperingati berkurangnya jatah hidup di dunia?

Tanggal 27 selanjutnya???