Hihihi…geli ya baca judulnya…
Barusan baca (lagi) bukunya Asma Nadia, La Tahzan for Jomblo.
Isinya beberapa curhatan dari beberapa penulis tentang pengalaman mereka sebagai jomblo.
Karena temanya juga ‘La Tahzan’, yang diceritain yaa…indahnya jadi jomblo dong…dan berbagai alasan kenapa lebih baik kita menjomblo.
Oh ya..oh ya..sepertinya harus kita sepakati dulu nih, definisi jomblo dalam tulisan ini. Dalam hal ini saya menggunakan istilah jomblo untuk orang-orang yang ga punya pacar. Wew…dari satu definisi itu sebenernya bisa dikembangkan definisi istilah lainnya, yaitu, pacar. Apakah yang dimaksud dengan pacar? Hihihi…coba dibolak balik bulak di buku manual hidup kita, adakah satuuuuu aja kata ‘pacar’ atau ‘pacaran’ yang tercantum disana. Dijamin….gak ada kan????

Bangga menjadi jomblo?
Kok bisa?
Hahaha….kalo aku punya pandangan berbeda bahkan bertolak belakang dengan banyak orang ga salah dong, lagi pula aku juga punya alasan kuat untuk mengatakan bahwa dengan menjadi jomblo aku merasa jauh lebih berharga.
Coba teliti…ada kata “lebih” pada kalimat di atas, seolah-olah aku sedang membuat suatu perbandingan.
Bukan “seolah-olah”, aku memang sedang membandingkan…Perbandingan antara Jomblo dan Tidak Menjomblo.
Karena dalam kurun waktu sejak aku mengenal perasaan mirip tai kucing rasa coklat, aku pernah merasakan sekitar 2 tahun atau barangkali lebih menjadi orang yang tidak menjomblo, dan jika dibandingkan dengan kehidupanku sekarang, maka dengan sepenuh hati aku mengatakan, “Menjadi jomblo itu ternyata jauuuhh lebih menyenangkan daripada punya pacar”
Menjadi jomblo bukan berarti ngga laku dooonnngg…tapi justru kita menghargai diri kita lebih besar dengan memilih menjadi jomblo. Ya…memilih…karena jomblo itu pilihan. Walaupun mungkin ada sebagian orang yang jomblo karena susah dapet pasangan.
Seperti halnya liburan kerja….status jomblo membuatku memiliki waktuku sendiri. Waktuku hanya untukku sendiri, dan untuk Tuhan-ku tentu saja, karena itulah alasan aku diciptakan ke dunia.
Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika aku menikmati keindahan semu bersama seseorang yang kuikat dalam hubungan pacaran.
Senang memang….rasanya hati ini selalu berbunga-bunga setiap bertemu dengannya, setiap mendengar suaranya, atau sekedar menerima SMS darinya. Tapi tanpa aku sadari, aku telah menghabiskan sebagian besar waktuku untuk memikirkan dia.
Kegiatan perkuliahanku memang tidak pernah terganggu dengan pacaran, kegiatan berorganisasiku pun lancar jaya….tapi seandainya (ah…berandai-andai, hanya bentuk penyesalan dari seseorang yang putus asa)….seandainya dulu aku ga pacaran, mungkin aku lebih bisa mengembangkan potensiku tanpa terbentur oleh kepentingan pacar yang kadang membatasi. Aku bisa bermimpi seluas-luasnya tanpa terhambat oleh mimpi bahwa pada suatu hari nanti aku akan menjadi pasangan seumur hidup-nya.
Berkaitan dengan mimpi, aku pernah punya mimpi yang sangat dibatasi oleh berbagai ketidakmungkinan seandainya aku memilihnya menjadi pasangan hidupku.
Dengan mempertimbangkan pekerjaannya yang tidak mungkin hanya berdiam pada suatu daerah, aku pernah memiliki mimpi yang sangat dangkal untuk cukup menempuh pendidikan sampai S1 dan tidak memiliki pekerjaan apapun. Bukannya pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu tidak mulia, hanya saja bahkan aku ga pernah terpikir bekerja untuk sekedar mencari pengalaman, karena mimpiku keburu dikebiri oleh harapanku untuk menjadi pasangan hidupnya.
Bodohnyaaaa……hahaha…jahil abis!!!