Suatu hari di forum Ikastara…(ga gw edit lagi ah..males..hehe)

***
Wah feedback yang bagus Bang, terima kasih.

(hmm…ngomong-ngomong, ni emang tulisan yang pernah aku post di ikastara.org, untuk menanggapi postingan seorang Abang yang mengomentari postinganku sebelumnya)

Awalnya saya hanya menerima informasi dari Eramuslim itu bulat-bulat, bahwa Namrudz lah yang pertama kali melakukan incest.
Tapi, mengingat, Eramuslim merupakan suatu media, yang seharusnya bisa mempertanggungjawabkan segala informasinya, maka saya pikir, pasti Eramuslim mengambil suatu dasar tertentu sehingga bisa mengatakan bahwa incest pertama terjadi antara Namrudz dan ibu kandungnya.

Hal pertama yang terpikir ketika, membaca comment Abang adalah….mungkin ada perbedaan pandangan tentang definisi incest, dari sisi Eramuslim dan masyarakat kebanyakan, yang seperti kita tahu pengertian masyarakat pada umumnya tentang incest adalah hubungan (bersifat seksual) yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat. Jika mengacu pada definisi tersebut, maka tidak salah jika kita mengatakan incest pertama terjadi antara anak-anak Nabi Adam.
Tapi bagaimana jika Eramuslim berangkat dari definisi, bahwa suatu hubungan antara pasangan yang memiliki hubungan kekerabatan dekat baru dikatakan incest setelah adanya larangan dari Allah. Maka pertanyaan berikutnya yang muncul dalam benak saya adalah, kapan incest mulai dilarang oleh Allah dan mengapa?

Tentu kita tahu tentang konsep mahram dalam Islam, dimana dalam ayat di Alquran kita diharamkan menikah dengan mahram kita. Pastinya ada hikmah di balik larangan ini, selain untuk menguji, seberapa kuat ketaatan kita kepada Allah. Dan hikmah larangan ini ternyata banyak terungkap lewat ilmu pengetahuan.

Dalam An-Nisa ayat 23, Allah berfirman tentang siapa-siapa saja yang haram dinikahi, ayat tersebut dipungkasi dengan kalimat…. kecuali yang telah terjadi pada masa lampau… jika saya mendefinisika incest sebagai perkawinan antara kerabat dekat yang dilarang oleh Alquran, maka perkawinan yang terjadi diantara anak-anak Nabi Adam pada masa lampau belum bisa dikatakan incest. Lagipula kita pun tahu bagaimana upaya Nabi Adam untuk tidak mengawinkan anak-anaknya yang memiliki hubungan sangat dekat, misalnya dengan tidak mengawinkan seorang anaknya dengan kembarannya.

Tapi, dengan definisi tersebut pun, kita bisa mengatakan, Namrudz (mungkin) tidak melakukan incest dengan ibu kandungnya, karena ayat tersebut turun lama setelah masa Namrudz hidup.

Definisi lain saya dapat dari Om Wiki, yang menurut beliau, incest lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bisa dibandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis.

Dari definisi tersebut saya mencerna bahwa, istilah incest lebih tepat digunakan dalam konteks sosio antropologi (salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu, mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial), dan definisi incest dapat dikaitkan dengan kelaziman kejadiannya dalam suatu masyarakat.

Jika mengacu pada definisi diatas, maka bisa dikatakan bahwa yang terjadi antara Namrudz dan ibunya adalah incest, mungkin memang incest pertama, dimana untuk pertama kalinya terjadi perkawinan yang tidak lazim antara ibu dengan anaknya.

Lagipula, jika dikaitkan dengan kewajiban kita berbakti kepada orang tua (terutama ibu), maka terjadinya perkawinan incest antara Namrudz dengan ibunya bukan hanya tidak lazim secara sosial masyarakat, namun juga melanggar norma agama, dimana dengan membandingkan antara kewajiban anak terhadap ibu dengan kewajiban istri terhadap suami, menjadi tidak mungkin peran ibu dan istri, atau anak dan suami, dijalankan bersama-sama. Mengenai kewajiban anak berbakti kepada orangtua, dan istri berbakti kepada suami, bahkan Allah sudah mengaturnya jauh sebelum Alquran diturunkan.

Allahu’alam…

Segala kebenaran datangnya dari Allah, dan segala kekeliruan datang dari saya sendiri.

(diambil dari berbagai sumber, dan pemikiran sendiri yang masih teramat dangkal)

***