Ngapain??? Ah…nggak….

Prolog dulu ya…

Jadi, yang namanya Puput itu emang ga bakat gemuk dari kecil.
Waktu TK, hmm..lumayan lah…pipi masih ada tembem-tembemnya.
Sejak masuk SD, si Put yang ndut pun mulai kelihatan cungkring, tinggi dan kurus.
Bapakku emang kurus….bisa jadi karena itu kan? Tapi dalam sejarah hidupku, aku emang termasuk orang yang susah naikin berat badan tapi gampang banget nuruninnya.
“Ya sudah, emang udah bakat kurus mau diapain lagi”, pikirku waktu itu.
Tapi hal itu mulai kuanggap masalah ketika kelas 3 SMP aku berniat mendaftar ke TN. Dengan tinggi 160an, beratku hanya 43…kurus banget kaaannnn????
Berbagai usaha pun Mamah lakukan sekedar untuk menaikkan beratku 2 kg, karena waktu itu, entah tahu darimana, atau sekedar sok tau, ada yang bilang kalo mau masuk TN, berat minimal 45 kg.
Mulailah si Mamah ngasih makanan macem-macem ke aku. Susu penambah berat badan 2 kali sehari, sampai berbagai suplemen untuk menambah nafsu makan.
Dan hasilnya? Beratku tidak pernah melebihi angka 43 sampai tes dimulai.

Pertama kalinya merasa gemuk itu justru setelah masuk TN.
Tiga bulan pertama disana beratku naik sampai 8 kg!!!! Dari 43, jadi 51. Sedahsyat itu TN mengubahku…hehehe
Untung beratku ga nambah 8 kilo setiap 3 bulan, hahaha…
…dan setelah itu beratku memang ga pernah naik secara signifikan lagi.
Sepanjang hidupku di TN beratku paling mentok ya 53, dan itu pun masih dianggap underweight, walau kata beberapa orang temen, itu udah PAS! Langsing booo….hehehehe.

Nah, memasuki masa kuliah, waktu makanku pun makin tidak terkontrol. Aku sarapan kalau mau, makan siang tidak pada waktunya, dan makan malam sakahayang alias semaunya, hingga selama masa kuliah aku ‘berhasil menjaga’ berat badan antara 49-50 kg.
Saat itu, keluargaku berkomentar. “Ini sih kayak kembali ke Puput zaman SMP, kurus banget…”
Dan dalam kamusku aku memang tidak mengenal kalimat, “Aku ingin kurus”, tidak seperti kebanyakan remaja cewek sekarang yang pengen kurus-kurus (karena merasa mereka gemuk). Justru yang seringkali kuucapkan, bahkan di depan teman-temanku adalah, “Aku pengen gemuk”, yang diikuti dengan komentar, “Udah pas kali Put segitu, kamu ga kurus-kurus amat kok”.
Aku suka merasa nyesel, dan merasa telah mendzolimi badanku sendiri kalo makan tidak sampai 3 kali sehari, paling merasa bersalah lagi kalo aku melewatkan makan malam, karena kupikir makan malam itu adalah waktu yang tepat untuk nggemukin badan.

Nah memasuki masa kerja, aku ga menyadari ternyata berat badanku naik secara perlahan. Beberapa bulan setelah kerja aku mulai menimbang berat badan dan menemukan fakta yang mengejutkan bahwa beratku kini mencapai 55 kg, naik 5 kg sejak lulus kuliah beberapa bulan yang lalu.
Aku merasa gemuk dan semakin merasa gemuk ketika beberapa orang yang belum pernah kutemui lagi setelah kerja berkomentar hal yang sama, “Put, tambah gemuk sekarang”, bukan hanya satu atau dua orang, tapi setiap orang yang bertemu lagi denganku setelah sekian lama ga bertemu selalu berkomentar yang sama.
Padahal untuk tinggiku yang 163, aku tidak termasuk gemuk dengan berat 55, hanya saja, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa gemuk, dan ingin menurunkan berat badan, dan tidak menyesal ketika aku meninggalkan salah satu jadwal makan setiap hari.

Haha…Manusia itu emang selalu merasa kurang ya, tidak pernah puas pada apa yang telah dimiliki.
Dikasih kurus, pengen gemuk.
Digemukin dikit sama Allah, pengen balik lagi ke kurus.
Hayo..hayo…pertanda kurang bersyukurkah ituh???

Ding….

Mikir!!!!