“Udah dijual Put…”
Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Mamah.
“Kasihan Mah….”
“Ya gimana lagi, kalo ga dijual yang lebih kasihan lagi Bapa, susah ngurusnya. Lagian mau disimpen dimana? Garasi ga ada”

Seandainya saat itu aku tidak di depan Mamah, mungkin aku sudah menangis tersedu. Tapi aku tahan. Seperti halnya aku menahan air mata ini tidak jatuh ketika Mamah menceritakan kondisi terakhir mobil merah keluargaku beberapa minggu sebelumnya.

Hanya sebuah mobil. Mati! Materi!
Tapi, sedihku karena mobil merah bukanlah sedih karena kehilangan materi duniawi, karena tidak seberapalah harga mobil hardtop toyota merah produksi tahun 80-an itu dibandingkan dengan kenangan-kenangan indah yang kami ciptakan bersamanya.

***

Mobil itu pertama kali Bapa bawa ke rumah ketika aku masih kelas 4 SD. Mobil culik. Itulah sapaan pertama yang aku ucapkan pada mobil itu, karena biasanya di tipi-tipi (kebanyakan nonton sinetron mesti nih), mobil kayak gitu tuh dipake buat nyulik orang, dipake buat ngerampok, atau apatah kegiatan jahat lainnya….
Ternyata mobil merah keluarga kami bisa melakukan lebih banyak hal daripada sekedar nyulikin orang. Hehe..
Mobil ini terlalu bagus dibawa ke hutan (Bapa kan dulu karyawan Perhutani), tapi terlalu jelek dibawa ke kota. Tapi selama 13 tahun terakhir mobil itu selalu menemani keluargaku kemanapun kami pergi.

Aku pertama kali diantarkan ke sekolah baruku (waktu pindah ke SD yang baru) dengan mobil merah itu.
Aku pun diantarkan ke SMP-ku dengan mobil merah itu.
Aku pernah berjalan-jalan di Kota Magelang ketika SMA dengan mobil merah itu.
Beberapa kali orangtuaku menjengukku di kostan sewaktu kuliah pun dengan diantar mobil merah itu.

Ketika Mamah menyampaikan berita yang kuanggap buruk itu, aku hanya menangis dalam hati, dan sekelebat bayangan mobil merah itu muncul dalam benakku.
Ah…andai aku mampu mempertahankanmu…..

“Put kan nanti bisa beli mobil sendiri, Mamah cuma berdoa, semoga Put, Aa, Ade, dilancarkan rezekinya sama Allah…”, mungkin Mamah bermaksud menghibur, padahal sedikitpun Mamah tidak melihat ekspresi kehilanganku, karena aku dalam posisi membelakanginya saat itu.

Iya Mah….insyaallah….tapi mobil merah itu…tetap tidak tergantikan…kataku dalam hati.