Awalnya aku menganggap ini biasa. Semua orang wajar mengalaminya, karena manusia tempatnya ‘Salah’ dan ‘Lupa’ kan.

Eh..intermezo bentar deh…ngomong-ngomong tentang kalimat manusia tempatnya ‘Salah’ dan ‘Lupa’, jadi inget kejadian zaman SD dulu. Kelas 2 SD tepatnya, dimana suatu hari kami sekelas mengikuti semacam kuis pelajaran Agama.
Salah satu pertanyaannya adalah….”Manusia adalah tempatnya salah dan……”, isilah titik-titiknya.
Aku yakin sekali jawabannya, “Lupa”. Ya…karena semalam aku belajar.
Tapi…ketika kami memeriksa hasil pekerjaan bersama-sama, setelah si Ibu Guru selesai membacakan soal, “Manusia adalah tempatnya salah dan….” serta merta semua murid menjawab, “Benaaaaarrrrr”, kecuali aku dan beberapa yang lain (mungkin). “Ya…betul!”, kata Bu Guru menanggapi murid-muridnya.
Gubrakzzz…..aku ga terima. Aku protes….tapi nih Ibu Guru kayaknya ga belajar dulu semalem sampai keputusan jawaban akhirnya tetap, “Benar”.
DONGKOOOLLLLL banget!!!!
Tapi bukanlah si Put kalau ga bisa menyembunyikan perasaan (Fiuuhh….jangan pernah bangga disebut orang yang pandai menyembunyikan perasaan, dalam banyak hal, ini sama sekali tidak nyaman!). Maka seharian sampai bubar sekolah aku menyimpan kedongkolan yang amat pada teman-teman, lebih-lebih pada Ibu Guru yang memberikan jawaban ‘sesat’ kepada teman-temanku.
Dalam hati….”Gara-gara mereka, gara-gara Ibu Guru juga, nilaiku ga maksimal…sebeeeellllll!!!!”
Maka sesampainya di rumah siang itu, aku langsung menemui Mamah, dan……NANGIS!!!! Hwahahahaha…..
“Kenapa Puuutttt…pulang-pulang kok nangis??? Ada yang gangguin??”
Maka mengalirlah ceritaku, tetap dengan sedu sedan….
“Terus mau gimana lagi?? Put bilang dong ma Ibu Gurunya kalo jawaban Put yang betul…!”
Dan aku….tidak berhenti menangis, sampai akhirnya Mamah ngasih solusi terbaik menurutku saat itu, (sekaligus sangat memalukan kalau diingat-ingat sekarang).
“Ya udah, sekarang juga kita ke rumah Ibu Guru ya….kita tunjukin kalau jawaban Put yang benar, biar sekalian nilai Put diperbaiki”
Maka…sore itu juga, aku n Mamah ke rumah si Ibu Guru itu (Bu Guru siapa ya?!? Lupa namanya..heu..heu..maaf Ibu..)
Mamah menjelaskan semuanya, dan….”Oh iya..iya..jadi jawaban neng Put udah betul ya? Iya kita perbaiki nilainya ya…”, saat itu juga aku melihat dengan mata kepalaku si Ibu Guru memperbaiki nilaiku. Hohohoho…..duuhh…malu…kenapa waktu itu pake acara nangis-nangisan segala ya?! Hwehhwehe…

Nah terus……….
Kita tadi mau ngomongin apaan sih? Yang pasti, kisah masa SD-ku di atas baru sekedar intermezo loh ya….

Tapi…

Beberapa detik kemudian, seorang Erdin mengganggu konsentrasiku dengan mengirim pesan berbunyi…
“Hoooiiii….pulaaaang!!!”

Owhhh…bahkan inti ceritanya pun belum sempat aku sampaikan.

Baiklah postingannya sampai intermezo aja….lol