Membaca komentar dari seorang Sahabat disini, sekaligus menginspirasiku menulis (lagi-lagi) tentang mimpi.

….tapi ada hal yang menarik lagi buat ku… bisa kah kau menjawabnya?

ada sebuah dilema ketika ada peluang untuk menyamai realita dengan mimpi yang telah dibuat. tapi ternyata peluang itu tidak bisa diraih. orang-orang pasti berkata, mungkin itu yang terbaik. kita juga slalu berdoa, “allah berikan lah yang terbaik untuk ku..” dan akhirnya ia pun bimbang dengan mimpi yang tlah dirangkai.

kenapa ya orang tuh ga kongkrit minta doanya? maksudnya kenapa ga sekalian aja sebutin apa yang kita inginkan?

dirimu seperti itu juga ga? atau berbeda?

Sebuah komentar balasan pun kutulis, dengan diakhiri, “Panjang ceritanya….kalo kayak gini mah bisa bikin satu tulisan sendiri”, jawabku.

Hmmm…mulai darimana ya?
Heuh…inilah salah satu hambatan menulis. Banyak hal yang ingin disampaikan tapi bingung harus memulai dari mana.

***** masih mikir *****

Mungkin begini…
Ketika kita berdoa, “Ya Allah berikanlah yang terbaik!”, maka itu adalah ungkapan kepasrahan kita kepada Allah, bahwa sekuat apapun kita berusaha, hanya Allah-lah yang menentukan (sekaligus mengetahui) hasilnya.

Ketika kita berdoa, “Ya Allah berikanlah yang terbaik!”, kita tidak sedang menunjukkan keputusasaan kita bukan? Karena menurutku, ketika kita berputusasa atas suatu usaha maka bukan hasil terbaiklah yang akan kita capai.
Satu hal yang aku yakini, bahwa kita akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang kita usahakan.

Ketika ada peluang untuk menyamai realita dengan mimpi yang telah dibuat, tapi ternyata peluang itu tidak bisa diraih, orang-orang pasti berkata, mungkin itu yang terbaik.

Itulah yang TERBAIK yang diberikan oleh Allah atas apa yang kita USAHAkan.
Sebenarnya kita bisa mencapai hal yang lebih baik ketika kita menambah kualitas usaha kita.

Ketika suatu peluang yang ingin kita capai TIDAK TERCAPAI, maka hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah, MENGEVALUASI DIRI. Adakah bagian dari usaha kita yang tidak optimal? Mungkin caranya yang salah? Atau niatnya yang belum lurus? Atau cacat lain yang secara sadar atau tidak sadar merusak usaha kita?
Ketika kita mengatakan, “Inilah yang terbaik dari Allah”, sementara usaha kita belum maksimal, maka itulah pernyataan orang yang tidak berpikir.

Aku punya beberapa contoh Ya (secara khusus tulisan ini memang untuk menjawab pertanyaan Oya).
Hal-hal yang kualami sendiri sehubungan dengan keterkaitan antara DOA – USAHA – dan MIMPI

Sejak duduk di kelas 3 SMP, aku me-MIMPI-kan masuk SMA TN.
Tau ga Ya? Dari dulu aku bukan seorang siswa yang menonjol dengan kepercayaan dirinya. Dalam banyak hal aku adalah seseorang yang selalu merasa tidak percaya diri, bahkan cenderung rendah diri, apalagi jika dihadapkan dengan orang lain yang menurutku memiliki lebih banyak keistimewaan daripada aku.
Begitu pula ketika akhirnya aku memutuskan mendaftar ke SMA TN, satu hal yang kuketahui sejak awal, adalah, “Aku harus berhadapan dengan orang-orang yang lebih hebat demi satu bangku di SMA TN”.
Dan benar saja…tes demi tes yang aku jalani hampir selalu membuatku putus asa.
Tapi aku punya MIMPI Ya, yang mengiringi USAHA yang kulakukan (….cek kesehatan sebelum tes, sehingga akhirnya aku tahu mataku kurang normal dan gigiku memiliki struktur yang kurang baik, les dan latihan renang mulai dari NOL, karena mengira ada tes renang untuk bisa masuk SMA TN, minum susu sampai 3 kali sehari, karena berat badanku sangat kurang, bahkan minum jus wortel yang sukses membuatku muntah berkali-kali….), dan USAHA itu (terasa) mendekatkanku dengan MIMPI yang ingin kucapai.
Tapi kuasa Allah ada dalam setiap USAHA kita bukan? Maka aku iringi USAHA-ku dengan DOA. Sederhana Ya, hanya sebaris kalimat berbunyi, “Ya Allah….semoga aku bisa masuk SMA TN….”, teruuuss seperti itu berulang-ulang, dalam setiap kesempatan mengingat Allah. Tidak satupun kalimat doaku berbunyi, “Ya Allah…berikanlah yang terbaik!”, ga paham. Hehe…dipikir-pikir, dulu aku berdoa kok ga pake etika ya…
Dan DOA pun terasa semakin mendekatkanku dengan MIMPI.
Ketika akhirnya MIMPI itu tercapai, maka aku yakin itu pastilah hasil kolaborasi antara MIMPI, USAHA, dan DOA..

Itu baru satu contoh Ya…
Ada satu contoh ‘kegagalan’ yang tidak kusesali karena aku sadar telah merencanakan ‘kegagalan’ itu.
Yaitu….Sidang Kelulusan Sarjana.
Tau ga Ya? Saat itu aku dalam kondisi jauh dari Allah.
Usaha jalan terus….belajar, bahkan sampai begadang.
Tapi, tau ga Ya? Aku luput mendekatkan diri kepada Allah.
Aku tetap bermimpi, “Nilai sidangku minimal A-“, tapi, tau ga Ya? Aku merasa mimpiku tidak benar-benar tertanam dalam hatiku. Bahkan, dalam hatiku yang terdalam aku merasa, “Mimpi itu tidak akan tercapai…”.
MIMPI yang dangkal itu, membuat USAHA-ku juga seadanya, hal ini kurasakan sebagai akibat jauhnya aku dari Allah, yang diindikasikan dengan melemahnya DOA-DOA yang biasa kupanjatkan.
Aku tidak menyesal Ya, kalau pada akhirnya nilai sidangku bahkan di bawah ekspektasi, karena ada pelajaran lebih berharga yang aku dapat dengan kejadian tersebut.

Jadi Ya…terjawabkah?

– hanya pendapat pribadi –