Sudah beberapa minggu sejak pull out dari klien, aku tidak lagi menggunakan bus transjakarta sebagai alat transportasi utama menuju tempat kerja. Padahal, percaya ngga? Saat-saat ber-busway itulah aku menemukan banyak inspirasi untuk menulis (baca: curhat). Hanya kadang, ide itu menguap begitu saja ketika kaki ini melangkah keluar dari halte busway.

Yang selalu menarik adalah memerhatikan perilaku orang-orang di halte maupun di dalam bus. Kadang lucu, tapi dalam banyak hal menyebalkan. Hahaha…mungkin masalah perilaku mereka yang terasa ‘menyebalkan’ itu sangat terkait dengan suasana hati di hari kerja pada pagi hari yang dalam banyak hal juga tidak menyenangkan.

Dari pengamatanku selama beberapa bulan jadi penumpang setia busway jurusan Blok M-Harmoni, dilanjutkan dengan Harmoni-Pulogadung, maka aku mengelompokkan penumpang-penumpang menyebalkan itu sebagai berikut.

1. Ngobrol dengan sesama penumpang, dengan suara yang terlalu nyaring

Terganggu? Tentu saja!
Kejadian paling menyebalkan terjadi pagi itu (Kapan ya?!)

Sekelompok cewek – menurut perkiraanku sih mereka mahasiswa, dilihat dari buku-buku yang mereka bawa, tapi soal kelakuan…eugh…bikin ilfeel setengah mati – naik bersamaku dalam satu bus dari Harmoni. Sejak kaki mereka menginjak lantai bus, maka sejak itu pula mereka NGOBROL, seolah-olah ingin seisi bus mendengar apa yang mereka obrolkan. Aku mau tak mau mendengar apa yang mereka bicarakan, walaupun tidak terlalu menyimak. Tentang apa? KLASIK! Masalah cowok. Seandainya isi bus saat itu cewek semua, mungkin kita semua masih mafhum.

Apa yang mereka obrolkan benar-benar tidak menunjukkan kalau mereka dari kalangan berpendidikan (seandainya mereka benar-benar mahasiswa).

Satu kalimat yang waktu itu benar-benar membuatku geli adalah, ketika seseorang yang terlihat paling ‘modis’ (baca: norak) mengatakan, “Kalo tipe gue sih yaahh…modelnya cowok-cowok basket gitu deh….blah….blah…blah….”

Seketika aku langsung menengok dengan ekspresi yang kurang lebih terbaca, “Situ oke?”

Hahaha….Put…Put…biarin aja kale…!

2. Menjawab panggilan telepon, (juga) dengan suara nyaring

Kalo diperhatiin sih, yang paling sering melakukan ini adalah penumpang setengah baya, yang usianya sekitar 40 tahunan ke atas, ketika mereka belum mengenal teknologi telepon genggam pada masa muda mereka. Ga tanggung-tanggung, mereka menjawab telepon dengan ‘setengah berteriak’, seolah-olah suara mereka tidak akan terdengar seandainya berbicara dengan volume suara yang biasa saja. Itu pun sesekali masih terdengar kata-kata, “Apa? Apa?”, pertanda ada beberapa kalimat yang mungkin tidak terdengar.

Tapi kejadian paling menyebalkan terjadi ketika aku duduk di bangku panjang paling belakang. Di sebelahku persis, seorang laki-laki, kira-kira masih di bawah 30 tahun, menerima telepon sejak dia naik bus dari halte Harmoni. Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan, suaranya semakin nyaring, disertai gelak tawa yang membuatku mendelik padanya beberapa kali. Hah…ngga ngefek, wong dia juga ngga nyadar. Dan aku merasa ‘penderitaan’ku akan segera berakhir ketika dia (akhirnya) mengakhiri pembicaraan saat itu.

“Fiuuhh….”, lega.

Tapi dugaanku salah.

Selesai dengan satu penelepon sebelumnya, dia kembali memainkan tombol-tombol di HPnya, dan dimulailah ‘penderitaan’ku berikutnya ketika dia mulai berbincang-bincang dengan temannya yang lain. Kali ini aku sedikit banyak menyimak apa yang dia bicarakan, dan menurutku “100% GA PENTING DAN GA MENDESAK”.

Dari hasil ngupingku (terpaksa…mau ngga mau pasti kedengeran), aku tau kalo si penelepon menyebalkan itu sedang menghubungi seorang teman di kampungnya. Dari dugaanku, si penelepon menyebalkan ini juga warga baru di Jakarta.

Tapi, ada satu kalimat yang membuatku sangat geli. Sepertinya orang yang ditelponnya bertanya, “Lagi ngapain?”, karena tidak berapa lama aku mendengar jawaban seperti ini dari si penelepon menyebalkan itu, “Yaaahh….biasa lah…lagi tugas”.

Seketika itu juga aku menengok, memperhatikan lekat-lekat si laki-laki di sebelahku itu, dengan ekspresi yang kurang lebih terbaca, “Lagak loe!”

 3. Makan di dalam busway…

Masih ingat….

Terjadi pada pagi hari di penghujung tahun 2008, ketika aku harus berangkat sangat pagi karena ada stock opname di Tanjung Priok, dan aku harus sampai di halte Pulo Mas (Kelapa Gading) pada pukul 6 pagi.

Maka jam setengah 5 aku sudah berangkat dari kost sehingga sampai di halte Benhil pada pukul 5, bahkan ketika si petugas tiket belum melayani pembelian.

Pagi itu adalah pagi yang…kurang menyenangkan, terutama karena diawali dengan kejadian kurang menyenangkan di taxi yang aku tumpangi dari jalan depan kompleks rumah kostku menuju halte.

Ketika masuk ke dalam taxi, aku rasa sudah mengatakan dengan cukup jelas, “Pasar Benhil Pak”. Kupikir, si sopir itu mendengarku dengan jelas, karena dia tidak mengonfirmasi kemana tujuanku. Tapi jalan yang dipilihnya membuat kami justru menjauhi Pasar Benhil.

Di tengah perjalanan malah aku yang bertanya, “Ini kemana ya Pak?”

“Tanah Abang kan?”

Gubraks…..Pasar Benhil dan Tanah Abang? Kalaupun salah denger, ga akan separah itu kan?

Dari situ aku sudah mulai kesal, maka kuulangi tujuanku dengan nada yang sedikit meninggi, “Saya mau ke PASAR BENHIL Pak!”.

Cukup dengan kejadian mengesalkan di Taxi, yang membuatku harus membayar ongkos dua kali lebih mahal dari biasanya. Ketika sampai di depan loket penjualan tiket, dengan muka yang masih merengut, lagi-lagi aku kesal karena pelayanan si penjaga loket yang kurang ramah (mungkin sebagai reaksi atas mukaku yang juga terlihat kurang ramah….keseeellll).

Tidak cukup sampai disitu, di dalam bus aku bertemu dengan penumpang-penumpang menyebalkan dalam kelompok ketiga, yaitu makan di dalam bus, lebih dari itu, mereka pun mengobrol satu sama lain dengan suara yang amat nyaring, dan lebih-lebih dari itu, mereka membuang sampah makanan mereka di lantai bus.

Jadi, aku mencatat TIGA ‘kesalahan’ mereka dalam waktu kurang dari 5 menit sejak mereka masuk bus.

Heh…cape deh.