Sederhana, namun mengandung kekuatan yang dahsyat, itulah yang kurasakan setiap kali membaca sebaris kalimat dalam novel Edensor karya Andrea Hirata ini, membuatku berani untuk bermimpi.

Percaya atau tidak, ada satu masa dalam hidupku dimana aku tidak berani bermimpi mencapai hal-hal besar yang kuimpikan saat ini. Masa dimana seluruh mimpiku terserap oleh energi pesimis dari pencitraanku terhadap diri sendiri.

Sampai seseorang membangunkanku, dan membawaku menelusuri mimpi-mimpinya yang menginspirasi. “Bermimpilah Put! Jangan takut! Bermimpilah maka mimpi-mimpi itu akan tertanam dalam alam bawah sadarmu, dan secara tidak sadar setiap tindakan yang kau lakukan akan mengarah pada tercapainya mimpi-mimpi itu”.

Dengan bekal keyakinan pada kalimat tersebut, disertai keyakinan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang sampai seseorang itu mengubah keadaannya sendiri, maka aku mulai memimpikan hal-hal yang besar.

Ketika ku masih ‘belajar’ bermimpi, maka hal-hal yang kuimpikan segalanya berbau materi. Aku hanya ingin KAYA! Berlimpah harta dan tidak pernah kekurangan uang! Karena dalam pikiranku saat itu, kekayaan materi adalah salah satu syarat tercapainya kebahagiaan.

Tapi, kebahagiaan dalam definisiku berkembang semakin luas seiring dengan bertambahnya referensi tentang makna kebahagiaan. Maka semakin beranilah aku memimpikan hal-hal yang lebih besar daripada sekedar KAYA, karena apalah makna seorang kaya jika dia tidak memberikan manfaat bagi orang-orang sekitarnya.