Pertanyaan seperti ini terutama seringkali muncul dalam kepalaku pada pagi hari ketika aku harus berangkat ke kantor dengan 1001 perjuangan (Berlebihan ya…hehe).

Perjuangan melawan rasa kantuk dan sisa lelah yang belum hilang karena aktivitas hari sebelumnya.

Perjuangan melawan lapar karena perut yang tidak sempat terisi makan pagi.

Perjuangan mendapatkan kendaraan umum dari depan kompleks rumah kost ke Pasar Benhil.

Perjuangan mengatasi rasa gerah dalam kendaraan, padahal masih jam 8 pagi.

Dan SATU HAL INI, yang membuatku seringkali berpikir, “Untuk apa aku melakukan ini? Apa yang kukejar? Apa yang keperjuangkan?”, ketika aku harus berdesak-desakan berdiri di dalam minibus (Kopaja 19), bahkan di pintu masuknya, dengan sedikit perhatian pada keselamatan diri. Dan kupikir, baik si sopir maupun kondektur juga tidak terlalu ambil pusing pada keselamatan penumpang. Aku rasakan terutama ketika naik atau turun dari bus, si sopir tidak peduli satu kaki penumpangnya yang akan naik masih tertinggal di luar, atau satu kaki penumpangnya yang akan turun masih menginjak lantai bus, bagi mereka (sepertinya) yang terpenting adalah KEJAR SETORAN, mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Salah? Tidak juga…himpitan hidup mungkin menuntut mereka menjadi orang-orang yang menurutku….KERAS di jalanan.

Ketika setiap tanggal 25, saldo simpananku bertambah, aku kembali berpikir, “Hanya sekedar ini yang kukejar? Sedikit uang yang bagi sebagian orang menjadi simbol kebahagian hidup?”. Tapi hatiku menolak mengatakan, “YA”. Bukan ini….ternyata bukan uang juga yang kukejar.

Tapi sampai sekarang Allah memantapkan hatiku untuk tetap menjalankan ini, aku tidak pernah tahu apa yang Allah siapkan untukku di ujung jalan ‘perjuangan’ku ini.

Aku hanya yakin, bahwa Allah menyiapkan sesuatu yang indah pada akhirnya nanti. Sesuatu yang sebenar-benarnya aku cari. Tapi aku tetap tidak tahu, “Apa?”