Waktu masih muda dulu (hehe..sekarang udah tua ya?)….untuk pertama kalinya aku denger istilah Jaga Monyet, atau lebih kerennya, kami (para santri Magelang) biasa menyingkatnya dengan ‘Jamon’ (Perasaan ga ada keren-kerennya juga..hehe).

Aneh memang di telinga, apalagi bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya, mungkin sama terheran-herannya seperti kami dulu, si anak kelas 1 yang masih lucu-lucu, ketika pertama kali mendapat tugas untuk ‘Jaga Monyet’ secara bergilir setiap hari Minggu.

“Apaan yang dijagain sih?”
“Namanya aja jaga monyet…berarti kita ngejagain monyet!”

Ternyata…..apa itu Jamon???

Setiap hari Minggu ketika orang-orang menyiapkan pakaian ter-rapi mereka untuk berpesiar di seputar Kota Magelang, para Jamon’ers (halah..halah..) juga menyiapkan pakaian terbaik mereka buat ngejagain monyet (Hihihi…). Se-stel PDL ijo-ijo, sepatu PDL yang setengah mati nyemirnya, gesper PDL yang banyak bagian yang mesti di-brasso, topi PDL, dan….senjata perang….tongkat! Hwehehe….udah (ngerasa) paling gagah sedunia deh.
Terus, yang dijagain apaaaa?????
Maka, dengan perlengkapan perang itu berangkatlah kami ke pos masing-masing. Kalo cowok, satu pos menjaga satu monyet…eh satu pos jaga monyet maksudnya. Kalo cewek, satu pos berdua, karena sekolah ternyata paham banget bahwa wanita butuh berbicara (baca: ngobrol, ngegosip) lebih banyak daripada cowok. Heheh…
Ada beberapa titik pos Jaga Monyet, diantaranya di belakang ruang kelas 3 dekat GSG baru (di bagian depan kampus) trus….dimana lagi ya?! Yang pasti kalo cewek tuh selalu kebagian ngejagain monyet di pos daerah timur kampus, di ujung jalan yang paling dekat dengan rumah P-berapaaaa gitu…(lupa euy).

Stop tentang Jamon di kampusku dulu! Sebenarnya inspirasi menulis tentang Jaga Monyet ini datang ketika hari ini aku menemukan artikel tentang kampung-kampung bersejarah di Batavia (sekarang Jakarta) yang beberapa diantaranya telah berganti nama dan tidak dapat ditemukan di peta Jakarta masa kini.

Contohnya Kampung Rawa Bangke, yang saat ini telah berganti nama menjadi Rawa Bunga (pake prosesi bubur merah putih juga ga ya? Hehe). Menurut cerita rakyat Betawi, nama itu berawal dari zaman penjajahan Inggris, ketika pasukan Inggris berusaha merebut Jakarta atau Batavia dari tangan Belanda, awal tahun 1811. Dalam pertempuran sengit di daerah Jatinegara, banyak tentara Inggris yang tewas. Mayat-mayat atau bangkai mereka terlihat bergelimpangan di rawa. Warga sekitar lantas menyebut rawa itu dengan nama Rawa Bangke.

Versi lain menyebut, nama Rawa Bangke berasal dari masa abad ke-18 Masehi. Daerah rawa itu diberi nama demikian setelah di sana banyak ditemukan mayat orang China pemberontak yang jadi korban pembantaian pasukan Belanda. Catatan sejarah menyebutkan, sekitar 10.000 warga Batavia keturunan China tewas dalam aksi pembunuhan besar-besaran yang terjadi pada Oktober 1740 itu.

Terus bagaimana dengan nama Jaga Monyet?

Kampung dengan nama Jaga Monyet ini ternyata pernah ada di daerah Petojo, Jakarta Pusat dekat Harmoni. Jalan yang dulu bernama Jalan Jaga Monyet itupun berganti nama menjadi Jalan Suryopranoto. 

Nama tempat atau toponim Kampung Jaga Monyet muncul pada zaman VOC, antara abad ke-17 dan 18 Masehi. Pada masa itu, di sana terdapat benteng yang dibangun Belanda dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang.

Kabarnya, kalau sedang tak ada serangan musuh, para serdadu di sana lebih banyak menganggur. Sehari-hari mereka lebih sering hanya mengawasi kawanan monyet yang banyak berkeliaran di dalam benteng, yang pada masa itu masih dikelilingi hutan belantara. Dari kondisi itulah nama Kampung Jaga Monyet kemudian muncul.

Hmm…menarik bukan? Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan yang belum terjawab mengenai, “Mengapa acara jaga-jaga di TN dulu itu disebut Jaga Monyet?”, ada kaitannya sama penamaan Kampung Jaga Monyet di Batavia ngga ya?
Semoga tidak…karena kalo memang ada kaitannya, Jamon’ers di TN ga ada bedanya dengan para serdadu VOC saat itu yang lebih banyak menganggur dan hanya mengawasi monyet-monyet yang berkeliaran di dalam benteng.
Jamon jaman SMA dulu lebih bermakna dari itu bukan? :)

Sumber: disini nih!