Jadi ingat masa kecil dulu (kelas 1 SD), dimana uang saku dari orang tua cukup Rp100 per hari. Apa yang bisa dibeli dengan uang sejumlah itu? 4 buah permen, atau yang lebih mengenyangkan 2 potong gorengan, atau sebungkus bubur kacang, atau 2 bungkus snack yang berhadiah pula, atau…..macam-macam lah.
Ketika naik ke kelas 2, uang jajanku bertambah (secara nominal), jadi Rp200 per hari. Sampai aku berpikir, “Oooh…ternyata besarnya uang jajan itu ditentukan oleh tingkatan kelas juga ya? Asiiik…berarti tahun depan uang jajanku jadi Rp300 dong”, pikiran lugu seorang bocah.
Benar saja, setiap tahun uang jajanku selalu bertambah. Saat naik ke kelas 5 SD, aku pindah sekolah, dan sekolahku menjadi harus ditempuh oleh kendaraan umum, uang jajanku menjadi Rp700. Rp200 untuk ongkos pulang pergi, dan Rp500 untuk jajan.
Masuk SMP, aku kembali berjalan kaki ke sekolah. Tetapi uang jajanku naik menjadi Rp1.000 per hari, tentu saja karena jam pelajaran di SMP lebih panjang, dan mulai banyaknya kegiatan ekstrakurikuler yang harus aku ikuti sepanjang hari dalam seminggu.
Kenaikan uang jajan secara signifikan mulai terasa pada masa SMP. Uang jajanku naik tidak hanya setahun sekali, bahkan bisa beberapa kali dalam setahun secara bertahap, mulai dari Rp1.000, Rp1.200, Rp1.500, Rp2.000, Rp2.500, Rp3.000, dan akhirnya pada awal kelas 3 SMP uang jajanku menjadi Rp5.000 per hari, sejumlah itu termasuk ongkos pulang-pergi rumah-sekolah (kelas 3 SMP lagi-lagi aku pindah sekolah).
Yang paling terasa kenaikannya tentu saja ongkos kendaraan umum yang dalam setahun (di kelas 3 SMP) sudah beberapa kali naik tarif, dari hanya sekedar Rp100 hingga menjadi Rp300 untuk rute yang sama.

Saat itu, lagi ngetrend banget dimana-mana, termasuk di kalangan anak SMP seumuranku istilah, KRISMON. Kalau ditanya apa itu krismon, maka jawaban kami sederhana dan cukup singkat, “Krisis moneter…”, ah…janganlah mengharapkan jawaban yang memuaskan dari anak seusia kami kala itu.

Krisis moneter di Indonesia kurang lebih satu dekade yang lalu di Indonesia mungkin masih segar di ingatan orang-orang yang kala itu sudah melek duit. Hehe..(waktu itu aku hanya peduli uang jajanku bertambah…hehe…melek juga kan), dimana harga-harga kebutuhan pokok melonjak berkali lipat, barang-barang pun menjadi sangat langka di pasaran (seingatku waktu itu, belanja barang-barang tertentu di supermarket pun dibatasi jumlahnya, mie max 5 bungkus, susu max 2 dus, gula max 2kilo….ga masalah bagi keluarga kami, karena setiap orang dari kami membawa satu keranjang belanja yang berbeda..hehe), nilai tukar rupiah melemah terhadap USD (Dulu…percaya atau ngga, aku termasuk pengamat berita ekonomi juga lho…yang paling menarik adalah mengamati naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang selalu update sepanjang hari sebagai running text di beberapa stasiun TV…ketika angka rupiah membesar, artinya melemah terhadap USD, aku akan berteriak, Mamah…rupiahnya naik lagi…hahaha….konsepnya aja udah salah. Trus kenapa? Ya ngga apa-apa…heboh sendiri aja tanpa mengerti maknanya..heheh), dan adalah istilah INFLASI. Heh…??? Makanan apa ya itu?
Hoho..ada satu lagi istilah ngetop saat itu, IMF (kalau orang sekitar rumah menyebutnya I eM eP..hehe..).

Terus apa hubungannya dengan berita hari ini?

Seperti biasa, ngopi di kompas pada jam-jam istirahat. Ada judul berita yang sangat menarik perhatian, tentang terbitnya uang dengan nilai nominal 100 miliar dolar di Zimbabwe. APHAAAA?????? Mataku membelalak seketika.
Negara ini mengalami hiperinflasi yang dahsyat, mencapai 2,2 juta persen!!!! (ternyata negara kita masih mending buanget lho…inflasi yang ditargetkan pemerintah untuk tahun ini ‘hanya’ 6 persen, eits…tapi jangan lengah).
Hiperinflasi ini mengingatkanku pada cerita seorang dosen tentang hiperinflasi yang terjadi di Jerman pada periode tahun 1920-an, dimana untuk membeli sekerat roti, seseorang harus membawa segerobak uang.

Menarik untuk dicermati. Sayangnya, sekarang sudah menunjukkan pukul….malem banget. Aku harus segera pulang (sekarang di kantor..)
Nantikan kelanjutannya ya…..InsyaAllah.