Walaupun beberapa minggu yang lalu aku bertekad dalam hati, “Tidak akan membeli buku untuk beberapa bulan ke depan”, tapi ‘kunjungan’ku ke kios buku Gelap Nyawang, Bandung, beberapa waktu lalu membuatku ingin membeli beberapa buku yang selama ini memang ingin kubeli.

Akhirnya, di tanganku sekarang, ada dua buku karya Asma Nadia dkk, yang masing-masing berjudul, “La Tahzan for Broken Hearted Muslimah”, dan “La Tahzan for Jomblo”. Hmm…judul yang menarik bukan?

Tentu saja menarik…menarik minatku untuk membaca, dan menarik minat temanku untuk bertanya, “Kenapa Put? Lagi patah hati ya?”

Tidak…tentu saja (saat ini) aku sedang tidak patah hati. Hanya saja, “Asma Nadia adalah salah satu penulis favoritku”, sehingga ada keinginan mengoleksi buku-buku karyanya.

Tapi…ngomong-ngomong soal patah hati, hm…aku juga punya pengalaman ‘luar biasa’ soal ini.

Kata Tante Titiek Puspa, “Jatuh cinta….berjuta rasanya…”

Tapi lebih dari itu, ternyata patah hati itu, “Berjuta…juta…juta…rasanya…”

Jadi…mending mana? Jatuh cinta? Atau Patah hati? Ah…andai bisa memilih. Nyatanya, aku mengalami patah hati sebanyak aku mengalami jatuh cinta. Hahaha…

Eits…mulai ngomongin ‘cinta’ nih? Kayak yang tau aja, apa itu ‘cinta’.

Sungguh…sampai saat ini pun aku akan mengalami kesulitan yang amat ketika harus menjelaskan arti ‘cinta’. Cinta itu….entahlah….sesuatu yang bergumul dalam hati, tapi selalu susah untuk diungkapkan, apalagi dituliskan.

Selama ini, ketika kita berbicara soal cinta, maka yang langsung terlintas di pikiran kita pasti, hubungan antara dua manusia berlainan jenis. Tapi, apakah semua perasaan ‘aneh’ ketika kita menghadapi seorang lawan jenis bisa dikategorikan sebagai ‘cinta’?

Ketika tak ada waktu tanpa memikirkan ‘dia’….apakah itu cinta?

Ketika hati berdesir-desir saat mengingat ‘dia’….apakah itu cinta?

Ketika setiap tingkah lakunya tanpa cacat dalam penilaian kita….apakah itu cinta?

 

Atau hanya ‘nafsu’?

 

Entahlah…lagi-lagi…ENTAHLAH!

Ketika ku mulai menyadari bahwa cinta yang tertinggi seharusnya hanya kita persembahkan untuk Allah, aku semakin berhati-hati memutuskan untuk mengatakan, “Aku jatuh cinta pada dia…”, bahkan dalam diary sekalipun. Kenapa? Karena menurut pengalamanku, sekali kita menorehkan ‘pernyataan’ itu di diary, maka akan susah bagi kita untuk melepaskan diri dari tipuan perasaan kita sendiri. Tipuan? Tentu saja….cinta pada manusia (yang tidak halal untuk kita cintai) itu semu. Kita merasakan banyak keindahan ketika kita merasakannya, tapi di balik itu ada Seseorang yang memandang kita dengan sangat Cemburu, apalagi jika ‘cinta’ itu membuat kita jauh dariNya.

 

Diary oh Diary….

Ketika aku pulang ke Bandung akhir minggu kemarin, aku menemukan empat diary lamaku tersimpan di tempat yang sangat aman, di dalam dus bekas di lemari rak bukuku. Satu diary terakhir adalah diary yang sampai tahun 2008 kemarin belum sanggup kubuka lagi karena terlalu banyak kenangan indah (semu) yang berubah menjadi mimpi buruk selama 3 tahun terakhir.

Betapa bahagianya ketika aku tidak merasakan ‘nyeri’ itu lagi ketika kisah di buku itu kubaca selembar demi selembar. Artinya? Aku lulus ujian patah hati J

 

*

Semua berawal dari rasa penasaran…. pada seseorang yang bahkan belum pernah kujumpai fisiknya (saat itu).

Hanya saja beberapa orang pernah menceritakan sesosok ‘dia’ padaku….

“Oh…dia sering dateng berkunjung kok kalo lagi pesiar, suka nanya-nanya juga, ‘Ada Adek dari Kota X ga?’”

“Oh…si Y, tau sih…orangnya cakep kok…”

Atau

“Sri…tadi aku ketemu Y di rumah depan, nanyain kamu tuh…akhirnya dia titip salam aja buat kamu”

Di lain kesempatan, “Sial Sri…aku ketemu Y yang katanya sedaerah sama kamu, make acara ngeorientasi segala lagi….mana kutahu namanya siapa, asalnya dari mana, ketemu juga baru sekali itu.”

 

Hanya sekedar itu…bagai angin lalu, bincang-bincang itu hanya masuk telinga kanan, (singgah di hati), dan keluar dari telinga kiri.

Aku penasaran. Siapa dia??? Cari…cari…dan cari. Tidak sulit. Namanya bisa ditemukan di halaman-halaman terakhir buku angkatannya. “Oh…ini…”, batinku kala itu.

 

**

Dan bulan-bulan berikutnya berlalu tanpa ada cerita lagi tentangnya.

Sampai pada suatu hari, aku (dan rombongan Tim Inti MB) berkesempatan berkunjung ke kampus tetangga memenuhi undangan mengisi acara disana.

Seseorang tak kukenal menghampiriku dan bertanya, “Kamu kenal sama Asri ga?”

Ooh…dia…batinku ketika kubaca nama yang tertera di nametag-nya. Dan seketika dia pun menangguhkan pertanyaannya ketika melihat nama yang tertera di nametag-ku. “Oh…kamu Asri?”. Pertemuan singkat yang berakhir pada percakapan, “Boleh minta alamat rumah dan nomor telponnya ga?”. Kupikir, berarti ada pertemuan-pertemuan berikutnya.

 

Aku terkesan pada pertemuan pertama….berkali-kali aku mengatakan itu pada Diary. “Aku terkesan padanya…dia baik, ramah, sopan, dan…….cakep (Hahaha….ga deng…. ini nih yang ga beres)”

Dan hari-hariku setelahnya adalah penantian. Diaryku yang tahu….belum pernah aku menorehkan begitu banyak nama seseorang, begitu banyak cerita tentangnya, dalam satu diary, dalam setiap curhatan, hampir setiap hari. Heh….Perasaanku mulai terganggu…

 

***

Aku jenuh dalam penantian. Ternyata pertemuan berikutnya itu tidak pernah ada. Aktivitasku cukup membuatku lupa….bahwa dia pernah singgah di hatiku.

 

Tapi….aku terkesan. Sangat terkesan…ketika suatu hari dia datang ke rumahku.

“Hey…apa maksudnya? Kamu teman lelakiku yang pertama kali berani datang ke rumah, sendirian, pada pertemuan kedua!”

Sejak saat itu….cerita tentangnya kembali mengalir deras dalam catatanku….Setiap lembar adalah dia…tentang dia…hanya tentang dia…tentang perasaanku, yang saat itu kuikrarkan bernama ‘cinta’.

Ah…cinta itu memabukkan. Tapi toh aku berani mengatakan “Aku jatuh cinta”, walaupun belum mengerti benar, apa itu cinta.

Aku hanya menerjemahkan cinta dalam kalimat sederhana sebagaimana yang kurasakan saat itu.

“Pengennya ketemu terus…kangen beraaaattt…”

“Tak ada saat terlewat tanpa memikirkannya…”

“ Ngerjain apa-apa jadi ngga konsen…kepikiran dia terus…”

“Tiba-tiba senyum-senyum sendiri kalo lagi inget dia…”

Semuanya dia…dia…dan dia…Aku ngga sadar, itulah saat dimana perasaan ‘cinta’ku ‘kebablasan’, karena setiap hal yang dilakukan berorientasi pada si dia seorang.

 

****

Aku tidak bertepuk sebelah tangan….

Semakin melambunglah hatiku…

Hari-hari berikutnya bernama ‘INDAH’…..sangat indah. Dia semakin sering mengisi catatan hatiku. Bukan hanya selembar dua per hari, lebih dari itu….tangan (yang tak pernah lelah) dan otakku (yang tak pernah kering inspirasi) bekerja sama dengan sangat baik. Hal-hal kecil pun tak luput dari catatanku, semuanya tentang ‘dia’.

 

*****

Ah…tapi dia sangat mengecewakanku di tahun kedua hubungan kami.

Selama bersamanya, aku selalu merasa jatuh cinta lagi setiap kali bertemu dengannya (pertemuan yang bahkan belum tentu sebulan sekali). Dia sempurna di mataku. Buta! Aku dibutakan oleh cinta!

Aku 100% percaya padanya. Percaya bahwa dia 100% seperti yang aku bayangkan. Percaya bahwa dia 100% serius padaku. Sebagaimana aku merasa 100% mencintainya.

 

Sampai pada suatu hari….”Kita putus aja ya…”, begitu santainya dia mengucapkan itu melalui hubungan interlokal telepon, padahal saat itu kita tidak sedang dalam masalah.

Pertanyaan, “Kenapa?”, pun hanya dia jawab dengan, “Kasian….aku lebih sering ninggalin kamu….kita putus aja…kalo jodoh kan ga akan kemana…”

“Kalo jodoh kan ga akan kemana…”, kalimat pamungkas yang saat ini lebih sering aku ucapkan sebagai kalimat penghibur, bahwa….jodoh ga akan kemana….

“Oke….kita putus”, aku sepakat.

Sakit…tapi…aku menjalani hari-hariku seperti biasa, tidak ada air mata, atau rasa sakit hati yang berlebihan, karena sehari setelah putus status, dia menyatakan, “Aku pengen balik sama kamu…”. Plin-plan…walaupun status kita putus, aku selalu yakin bahwa dia pasti kembali.

 

******

Aku tahu alasan sebenarnya…mengapa tiba-tiba keluar pernyataan “Kita putus aja ya…”, saat itu.

“Y udah pacaran sama X selama setahun ini, waktu Y masih sama kamu…”, begitu kata salah seorang saudaranya.

Sakit….ini baru sakit!!!! Sangat sakit!!!

“Bahkan Y udah merencanakan melamar X sebelum berangkat tugas ke luar Jawa…”

Ini lebih menyakitkan lagi!!! Dia merencanakan pertunangan dengan orang lain bahkan ketika aku masih berstatus pacarnya saat itu.

“Y maksa pengen cepet-cepet ngelamar X. Tapi keluarga kami ngga ada yang setuju…”

Sakiiiiiiittttttttt…….dadaku sesak. Mataku panas. Aku menangis……

 

Jadi….apa yang dia cita-citakan selama ini tentang masa depan kami hanya OMONG KOSONG!

Seketika itu juga kepercayaanku menyusut, tidak ada yang tersisa. Aku 100% yakin dia pasti BOHONG dalam setiap ucapannya.

 

Tapi cintaku buta….

Berkali-kali aku disakiti dengan cara yang sama, berkali-kali dia memberi harapan, berkali-kali aku memaafkannya, dan berkali-kali aku tersakiti lagi.

Tapi, aku masih menitipkan sedikit rasa percayaku padanya yang membuatku berpikir, “Ah…biarlah…hari ini dia bilang mau pacaran ama siapa, besok ama siapa, atau besoknya lagi ama siapa, toh…pada akhirnya dia pasti kembali lagi padaku…”

Sebegitu yakinnya aku, karena sebegitu seringnya dia seperti itu.

 

Tapi….keledai pun tidak melakukan tindakan bodoh lebih dari sekali. Aku??? Karena cinta buta, bahkan bisa menjadi lebih dungu daripada seekor keledai. Dungu! Bodoh! Aku merutuki diriku sendiri.

Sampai suatu hari, ketika rasa percayaku padanya benar-benar habis, aku berpikir, “Dia tidak akan berubah!”, aku membalik cara berpikirku, “Dia sekarang sama cewek lain, suatu saat dia mungkin akan kembali padaku, tapi…dia juga akan kembali lagi menyakitiku dengan cara yang sama, aku harus mengakhirinya terlebih dahulu, sebelum dia yang mengakhirinya dan membuatku menjadi pihak yang tersakiti.”

 

Aku mengakhirinya.

Dia sama sekali tidak pernah menghubungiku…

Seminggu…dua minggu…aku kuat, tapi akhirnya tangisku pecah juga ketika hati ini masih juga merindukannya di minggu yang keempat.

Bulan-bulan berikutnya adalah perjuangan. Sekedar untuk melupakannya. Bukan hanya sebulan dua bulan. Setahun pun tidak cukup. Lebih dari dua tahun. Selama itu hatiku perih setiap kali selintas saja bayangannya muncul dalam pikiranku. Dan selama itu aku tidak pernah lagi jatuh cinta pada seseorang. Aku lupa rasanya jatuh cinta.

Sampai pada suatu hari………………………………………………..

 

(next stories)

 

 

– ditulis dengan perasaan yang……..biasa saja –