Semalem akhirnya memutuskan untuk pergi ke Makrab yang diadain sama adik-adik TN18.

Wew…TN 18??? Jadi serasa tua, mereka kelas 2 SMA sekarang (atau kelas XI kali ya kalo sekarang) dan udah 6 tahun lebih muda dari aku.

Awalnya ragu….dateng atau ngga ya? Satu-satunya yang bisa dijadiin alesan ga dateng adalah, “ga ada temen berangkat dari BEI”, tetapi alasan itu menjadi tidak ada ketika seorang abang TN9 yang benar-benar baru kukenal tadi malam mengirimkan message di Facebook yang isinya, “Mau bareng ngga? Kalo mau ketemu di Pintu Senayan 1 ya…”, dan tak lupa sebaris nomor handphone pun dia tinggalkan.

Tapi…rencana berangkat pun hampir batal, karena jam 8 malam lewat si Kita yang janjian berangkat bareng itu masih sama-sama di kantor, ketika tiba-tiba sebuah pesan pendek masuk hampir jam 9 malam menanyakan, “Jadi ngga?”.

Ya wis lah…udah terlanjur diniatin dateng, sekalian aja dateng, walaupun pada akhirnya kita baru nyampe tempat acara menjelang  jam 10 karena jalanan macet banget, mungkin pengaruh hujan deras sesiangnya.

Dan keputusan yang terkesan ‘bela-belain’ dateng itu ngga membuatku menyesal sama sekali. Malah membuatku seneeennnnggg banget, sampe aku ngga bisa melepaskan senyumku hingga menjelang tidur jam 12 malamnya.

Angkatanku yang hadir terbilang sangat sedikit. Bertiga, ditambah aku yang baru datang justru saat mereka meniatkan untuk segera pulang.

Celingak-celinguk….nyari pamong yang dikenal…”Pada duduk dimana ya?”. Di luar hall para alumni bercengkerama satu sama lain, walaupun kebanyakan masih ‘nge-gank’ per angkatan.

Eh…ada Pak Kuncoro. Maka sempatlah kita ngobrol….

Terus…eh..ada Bu Prima juga, maka sempatlah aku sapa, sambil basa basi menanyakan pamong-pamong yang lain. Tanpa kuduga si Ibu malah mengajakku ke tempat pamong-pamong duduk.

Dari jauh kulihat seorang Ibu Pamong menyambutku dengan tatapan surprised.

“Ibuuu…..”, aku peluk erat-erat Ibu yang tampak semakin tua di hadapanku ini.

Lamaa….dan haru.

“Ibu…aku kangeeeennnn….”

“Kok baru dateng? Dari mana?”, maka mengalirlah ceritaku….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

***

Sementara,

Lima tahun yang lalu…..

Setelah melewati masa kelas 2 yang luar biasa menyenangkan, bersama teman-teman sekelas yang amat sangat menyenangkan, kompak luar biasa (haha…narsis dikit lah…pada kenyataannya semua siswa menganggap kelasnya yang paling menyenangkan dan kompak), maka tibalah masa-masa akhir perjuanganku di TN dengan kenaikan ke kelas 3. Masa-masa dimana sebagian besar jam di setiap hari adalah belajar.

Masuklah aku ke kelas III-IPA3, ber-absen depan belakang dengan seseorang yang sangat pintar, sehingga kelihatan sangat jomplang ketika setiap semester nilai dari setiap kelas diumumkan di papan pengumuman. Hahaha…

Pada hari pertama kami di kelas 3, masuklah seorang Ibu Pamong yang tidak pernah kami duga sebelumnya memperkenalkan diri sebagai wali kelas kami. Bukan pamong IPA, matematika (karena biasanya yang diangkat menjadi wali kelas 3 adalah pamong-pamong IPA/matematika untuk kelas IPA, dan pamong pelajaran IPS untuk kelas IPS), dan sepanjang kami di TN pun belum pernah sekalipun Ibu yang satu ini memegang posisi sebagai Wali Kelas.

Terlepas dari semua aktivitas kelas 3 yang melelahkan…aku merasakan hari-hariku menyenangkan.

Berkumpul dengan teman-teman sekelas di rumah Wali Kelas setiap akhir pekan adalah saat yang amat menyenangkan. Pintu rumah Ibu selalu terbuka kapanpun saat kami butuhkan. Sementara saat itu teman-temanku yang lain banyak yang jarang kumpul kelas dengan berbagai alasan. Diantaranya karena beberapa wali kelas ada yang tidak menerima siswa di akhir pekan.

Disana tidak banyak juga yang kami lakukan. Paling hanya sekedar nonton TV, atau bermain-main dengan anaknya yang saat itu masih berumur 4 tahun.

***

Semalam…

Aku melihat dua foto anak kecil terpajang di layar ponselnya…

“Ibu…udah gede-gede….”, kataku.

“Iya…yang pertama sudah 8 tahun, adiknya 4 tahun”.

Sudah empat tahun lebih berlalu….cepat sekali.

Tidak banyak yang sempat kami obrolkan semalam, karena tiba-tiba ponselku berbunyi menyampaikan pesan dari temanku yang menunggu di luar, “Asri…gue pengen pulang nih…cepatlah….”.

Baiklah….memang saatnya pulang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Besok seperti biasa aku pun harus masuk kantor jam setengah sembilan. Aku berpamitan, dan baru menyadari di ruangan yang gelap itu juga kutemui ada Pak Heri, Pak Cecep, Bu Elly, dan pamong-pamong (baru) lain yang tidak kukenal. Mereka menyambut sapaku. Mereka mungkin lupa atau sama sekali tidak tahu namaku, bisa jadi mereka pun lupa pada rautku, tak apa….yang pasti dalam hatiku mereka akan selalu ada sebagai orang-orang yang membesarkanku, menggantikan sebagian peran orangtuaku selama menjalani pendidikan di Taruna Nusantara.

Untuk Ibu Marfungah Wali Kelas 3-ku….(yang menjadi inspirasi postingan kali ini), serta untuk seluruh Pamong Pengajar Pengasuh yang semuanya, tanpa terkecuali, meninggalkan kesan yang sama di hatiku….

Terima Kasih…..