Kejadian pada hari Senin tanggal 30 Maret 2009.

Tidak seperti biasanya, aku merasa hari ini bus kopaja yang rutenya melewati tempat kerjaku agak langka, kalaupun ada, selalu penuh. Kalau mau nekat, mungkin aku udah naik bus itu, berdesak-desakan di pintu masuk bus, dan tinggal berdoa semoga selamat sampai tujuan, tapi dengan bawaanku pagi ini, hampir mustahil aku melakukan itu.

Sebuah tas laptop dan plastik besar yang berisi dua binder besar beuuraaattt pisan cukup membuatku berpikir berkali-kali-kali-kali untuk naik bus yang tak kunjung kosong ituh.

Akhirnya…aku memutuskan naik taksi saja.

Sebuah taksi putih melintas, aku menyetopnya…berhenti, tapi…seseorang yang lain malah menaikinya. “Ohh..rupanya si taksi berhenti karena melihat orang itu mengberhentikannya, bukan aku”.

Tak berapa lama, sebuah taksi lain melintas. Aku sebenarnya tidak menyetopnya, karena melihat lampu di atas taksi itu tidak menyala, “Pasti sudah ada penumpangnya”, kupikir. Tapi si sopir yang memberi isyarat dari dalam taksinya membuatku melangkah mendekati taksi itu dan tanpa ragu memasukinya, lagipula sudah hampir jam setengah 9, aku ga mau datang lebih terlambat dari jam masuk resmi kantorku. Sedetik setelah mengambil keputusan menaiki taksi itu, “Aku menyesal”. Kenapa?

1.      Penampilan si sopirnya amat kurang menyenangkan dilihat. Sama sekali tidak rapi, menunjukkan ketidakprofesionalan dan ketidakrapian manajemen pengelola taksinya.

2.      Taksi itu ternyata tidak berargo. Sampai aku berpikiran, “Jangan-jangan si sopir akan memerasku dengan meminta ongkos yang lebih tinggi dari harga normal setelah sampai tujuan nanti”.

3.      Bahkan dia tidak tahu rute yang harus ditempuh ‘hanya’ dari Semanggi ke BEI. Beberapa kali dia menanyakan jalan, “Dari sini kemana? Terus belok kemana? Masuknya lewat mana?”. Hadoooh….lama-lama cape hati juga menjawabnya.

 

Pelajaran berharga yang kudapat:

Pilihlah merek taksi yang terpercaya!

 

Tercatat sudah dua kali aku merasakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan dengan taksi.

Yang pertama, ketika aku dengan mata minusku keliru naik taksi yang amat mirip dengan taksi biru (satu-satunya taksi yang kutau tidak menempelkan stiker ‘tariff bawah’ di kaca jendela depannya). Dan aku baru sadar “Aku tertipu oleh mataku” ketika kulihat di kaca jendela taksi itu ada tulisan ‘tariff bawah’nya. Bukan sok-sokan ngga mau naik taksi dengan ‘tariff bawah’, hanya saja saat itu sudah terlalu malam untuk naik taksi yang aneh-aneh, dan kebetulan yang banyak melintas saat itu ya…taksi biru, termasuk taksi biru penipu itu. Dan ternyata pelayanannya pun tidak memuaskan.

 

Pelajaran berharga lagi yang kudapat:

Teliti sebelum menyetop taksi!

 

Tapi, di luar itu semua, ada juga pengalaman lucu sehubungan dengan taksi, ketika suatu hari aku naik taksi dengan seorang temanku. Obrolannya ngalor ngidul sampai ujung-ujungnya kita ngobrolin taksi, tanpa sengaja dia bilang, “Lo kalo pulang malem mending naik taksi X aja, lebih aman dan….bla..bla..bla..”, padahal saat itu kita berada dalam taksi Y. Langsung aja si sopir bereaksi, tersinggung,”Hati-hati Mas kalo bicara, emangnya sopir taksi yang bukan sopir taksi X itu perampok? Penjahat? Bla…bla…bla….bla…”, walah ngomel-ngomel deh…Temanku pun tidak berkutik.

 

Lagi-lagi pelajaran berharga yang kudapat:

Jangan menyebut kelebihan taksi X saat kita berada di taksi bukan X. Hahaha…makasih B buat satu pelajaran berharganya.