Yuhuuu….masih di kantor neh…

Sekarang udah tanggal 31 Maret 2009, hampir jam 3 pagi, padahal aku berangkat dari kostan sehari sebelumnya, atau tanggal 30 Maret 2009 jam 8 pagi. Artinya….aku nyaris sehari semalam di kantor. Diperkirakan dengan tingkat keyakinan nyaris 100%, hari ini aku ga akan pulang sampai ketemu jam 8 pagi berikutnya.

Ga masalah…semoga ini yang terakhir (setidaknya) untuk minggu ini, mengingat dan mengenang (halah) klienku sekarang adalah emiten yang listing di BEI, maka laporan keuangan auditannya udah harus dilaporkan paling lambat tanggal 31 Maret.

Beruntunglah aku masuk tim yang orang-orangnya (secara emosi) stabil. Dalam keadaan se-rusuh apapun belum pernah terjadi persitegangan (siapa yang pernah make kata ‘persitegangan’ ini sebelumnya? Kok terdengar aneh ya?!?!?!), yang ga mengenakkan hati.

 

(Nah sekarang mulai nyambung ke cerita yang menginspirasi judul di atas)

 

Tapi ada sedikit hal sepele yang mengganggu kenyamananku hari ini (eh…hari kemaren).

Siang kemarin, untuk kedua kalinya aku dijutekin ‘orang itu’.

Aku sebut orang itu sebagai ‘orang itu’, karena aku tidak pernah mengenalnya.

Mungkin dasarnya dia memang jutek, tapi ngejutekin orang yang sedikit ‘sensitif’ kayak aku, bisa berakibat luka gores yang sangat tipis di hati, tapi membekas. Aku sakit hati. Benar!

“Memaafkan itu lebih baik bukan?”. Ya…aku berusaha memaafkan dia. Tapi aku sering ngga habis pikir sama orang-orang seperti dia, yang bisa dengan mudahnya ngejutekin orang tanpa alasan.

Kejadian pertama, dia pernah bilang, “Misi dong!”, meminta jalan, dengan nada yang lebih terdengar seperti menyuruh daripada meminta, dengan ekspresi…Jutek abis.

Kejadian kedua, dengan ketusnya dia menegurku ketika aku menggunakan mesin fotocopy terlalu lama, dan saking kesalnya menunggu, dia melengos pergi dengan delik mata dan decakan kesal.

Padahal untuk dua kejadian di atas, aku rasa semua orang bisa melakukannya dengan lebih sopan.

 

Hah…sudahlah…ujung-ujungnya aku harus berpikir bahwa ini hanya prasangka burukku saja.

Tapi juga bisa menjadi pelajaran bagi siapapun, termasuk buat aku, untuk lebih berhati-hati dengan sikap dan ucapan kita, karena kita tidak pernah tahu, apakah hati setiap orang berkenan dengan apa yang kita lakukan dan ucapkan?