Mendengar orang sakit meminta kesembuhan kepada Allah? Sering. Tapi, bagaimana jika suatu saat kamu mendengar orang meminta sakit? Dalam doa-doanya dia mengucap, “Ya Allah, aku pengen sakit….” Tak lupa kata, “Pliiiis!!!” pun terucap. Siapa yang dengan sangat berani meminta Allah mencabut nikmat sehatnya? Orang itu…..adalah Aku. Semalam aku merasa sangat lelah. Liburan satu hari ternyata sangat tidak cukup untuk membayar lembur luar biasa seminggu terakhir. Cengeng!! Mungkin, YA…aku cengeng. Tapi kali ini aku merasa bukan hanya lelah secara fisik. Lebih dari itu, “Cape hate…”, ceuk urang Sunda mah.

Kerjaanku mungkin belum terlalu menguras pikiran. Tapi, dalam keadaan yang sangat rush selama dua minggu terakhir, aku merasakan sedikit ketidaknyamanan dalam tim. Ada prasangka buruk, dan tiba-tiba semuanya tampak lebih sensitif, mudah tersinggung, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Tampak Sensi. Jangan-jangan ini hanya perasaanku saja? Mungkin. Tapi terlepas dari itu semua, semalam aku memang benar-benar menginginkan sakit, karena aku rasa sakit adalah satu-satunya cara (yang terpikirkan) untuk melepaskan diri sementara dari rutinitas ini. Tapi, pagi ini aku bangun segar bugar, sehat walafiat, walaupun semalam sempat ga enak badan, agak meriang, mungkin gara-gara ngga ada asupan karbohidrat seharian, sementara rencana tidur panjang pun terbengkalai. Allah tidak mengizinkanku sakit. Allah terlalu sayang sama Put. Makasih Allah. “Semoga minggu ini menyenangkan”, sebaris doa yang senantiasa kupanjatkan pada hari Minggu malam sebelum tidur pun terucap.

Pasti minggu ini menyenangkan……