*

“Kok pulangnya malam banget….kebagian shift malam ya Mbak?”, Tanya seorang supir taxi yang mengantarku pulang, saat suatu hari aku meninggalkan klien jam 12 malam.

“Oh ngga Pak. Emang udah mendekati deadline, jadi kerjaannya lebih banyak”

“Oh jadi masuknya tetep dari pagi gitu?”

“Iya Pak”, jawabku malas. Ngantuk!

“Emang kerja apa Mbak?”

“Auditor”

“Ooh…”, hanya itu, nada ‘ooh’ yang lebih terdengar sebagai tanda ‘tidak mengerti’

 

**

“Emang ngedit apa sih Mbak sampai semalam ini?”

Ngedit? Apa aku yang salah dengar? Tapi tetap kujawab, “Laporan keuangan Pak”

“Ooh. Kok diedit?”

Sekarang aku yakin ga salah dengar, tapi Bapaknya yang salah tangkap.

“Ga ngedit Pak, tapi ngeaudit”, jawabku mengoreksi.

“Ooohh…ngeaudit, soalnya tadi ketemu Satpam di depan gedung SA, katanya yang suka pulang malam itu editor”

Dan percakapan pun berlanjut……

Tetap…..seputar mengapa kami pulang semalam ini.

 

***

Tadi malam…..

Untuk yang keempat kalinya aku kena razia Polisi.

 

Yang pertama….

Lolos….mereka membiarkanku melanjutkan perjalanan setelah melihat KTP-ku.

 

Yang kedua….

Aku satu taksi bersama teman-temanku. Kami berlima diminta turun. Tas dan KTP kami diperiksa satu per satu, tidak ketinggalan pertanyaan, “Dari mana malam-malam gini?” terlontar. Tapi…lolos.

 

Yang ketiga….

Lagi-lagi aku satu taksi bersama teman-temanku. Tidak ada satu KTP pun yang diminta. Si Polisi hanya sempat melihatku duduk di kursi depan, dan bertanya, “Dari mana? Mau kemana?”, terdengar ramah, dan menyilakan kami melanjutkan perjalanan. Lolos…

 

Yang keempat….

Tadi malam. Aku sendirian. Pulang jam 1 malam. Ketika seorang polisi memberhentikan taksiku di tengah jalan, aku langsung mengeluarkan KTP-ku. Si Polisi memeriksa STNK dan SIM si Sopir Taxi. Sesekali si Polisi melihat ke kursi belakang tempatku duduk. Samar-samar aku mendengar dia meminta KTPku. Aku tidak begitu jelas mendengarnya. Untuk yang kedua kali dia meminta KTP-ku. Aku serahkan KTP itu lewat jendela dekat Pak Sopir. Lama…..5 detik…10 detik…15 detik…sampai setengah menit berlalu. Butuh selama itu kah hanya untuk melihat nama dan alamat KTPku?

Lalu aku melihat Polisi itu berjalan memutari taksi lewat belakang taksi, dan mengetuk pintu kiri belakang taxi, dekat dengan tempatku duduk. Aku membuka pintu tanpa niat sedikit pun untuk beranjak turun. “Duuh…ada-ada saja…”, keluhku dalam hati.

“Mbak dari mana mau kemana?”

“Pertanyaan itu lagi”

“Saya dari Plaza SA mau ke Benhil”, jawabku tegas.

“Ke Benhil kemana Mbak”

“Kostan saya”, jawabku pendek-pendek.

“Mbak habis ngapain, malam-malam gini?”

“Kerja”

“Boleh liat kartu kerjanya?”

Ah…inilah yang aku khawatirkan. Bahkan ID card pun aku belum punya karena selama ini lebih banyak menghabiskan hari-hari di klien.

“Belum ada, saya belum dapat ID dari kantor saya”

“Bisa turun dulu ngga Mbak?”, dia memintaku turun dari Taksi, dengan nada….entahlah…di telingaku itu terdengar kurang ramah.

“Mbak udah berapa lama kerja di Jakarta?”

“Tiga bulan”

“Kenapa masih pake identitas Bandung? Mbak seharusnya bikin KTP Jakarta”

“Mbak orang berpendidikan kan?”

Ekspresiku berubah seketika. Tersinggung. Sangat. “Hah?”, jawabku, hanya membuat si Polisi mengulangi pertanyaannya, “Mbak orang berpendidikan kan? Tau operasi yustisi kan? Kalo ga punya KTP Jakarta Mbak bisa kena”

Aku hanya mengangguk-angguk malas dan jawab sekenanya, “Ya..ya…”, pertanyaan Polisi barusan sudah cukup menghilangkan keinginanku untuk menjawab dengan lebih ramah.

Dia menyodorkan KTPku, sambil berkata, “Sebaiknya Mbak segera buat KTP Jakarta”

Aku mengambil KTP itu, sambil beranjak naik kembali ke taksi aku jawab,”Iya…kalo sempet pasti saya bikin”. Sebal!