Aku menghargai perbedaan. Aku tidak pernah mempermasalahkan jika harus bekerja sama dengan orang-orang yang secara prinsip berbeda denganku, selama kami bisa saling menghargai. Dari dulu pun aku merasakan hidup di tengah masyarakat yang heterogen. Berbeda suku, bahasa, bahkan agama. Satupun tidak pernah menjadi alasan renggangnya hubungan pertemanan.

 

Tapi berada satu ruangan bersama orang-orang yang secara prinsip sangat berbeda dengan kita kadang-kadang menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, apalagi ketika mereka membicarakan orang-orang yang berprinsip sama dengan kita dari sudut pandang mereka.

 

Awalnya hanya….

“Put, rambut lo segimana sih? Gue penasaran…buka dong, kan disini ngga ada cowok”

“Ngga”, jawabku tegas.

“Emang kenapa?

“Ngga dong. Malu.”

“Lagian mana boleh rambutku dilihat sama kalian”, lanjutku dalam hati.

Dan pembicaraan pun memanjang.

“Kenapa sih….kalo orang yang awalnya pake jilbab, terus tiba-tiba buka jilbab pasti dipermasalahkan, kayak waktu si A (menyebut nama seorang artis) buka jilbab, rame banget diberitain. Tapi kalo orang yang ga biasa pake jilbab, ya dibiarin aja ga pake jilbab, ga dipermasalahkan”

“Put…kalo orang pake jilbab itu pacarannya gimana?”, tanya yang lain.

“Nanti kalo udah nikah baru boleh pacaran”, jawabku.

“Lucu kali ya kalo nanti udah nikah terus masih malu-malu gitu sama suaminya”

“Kalo sama suami sih boleh buka-bukaan”, jawabku.

“Kan gue pernah tuh Put liat video dari CCTV gitu, ada orang pake jilbab, pake rok gitu, kerekam lagi pacaran, terus…..bla…bla…” dia pun menceritakan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh orang yang tampak memakai jilbab itu.

Ah….begitu banyak cara yang musuh kami lakukan untuk memfitnah kami. Jilbab, sebagai identitas khusus yang dimiliki muslimah pun dikotori dengan video fitnah murahan seperti itu. Video yang mungkin hanya disebar di kalangan mereka hanya untuk dijadikan bahan lelucon dan olok-olok.

“Pasti orang iseng”, jawabku. Bagaimana caranya aku harus mengatakan, “Pasti itu fitnah. Yang melakukan pasti orang-orang yang memusuhi Islam”

“Jadi ilfeel”, seorang yang lain menimpali cerita video CCTV itu.

Ilfeel? Bahkan mereka yang tidak mengerti kami pun, dengan cepatnya menyimpulkan “Ilfeel” hanya dengan mendengar cerita itu. Apakah berarti dari awal mereka sudah menyimpan benih prasangka buruk terhadap kami?

Lalu pembicaraan pun semakin meluas. Kali ini mereka membahas Saudara-saudaraku yang memilih untuk bercadar, dengan pakaian-pakaian gelap.

“Kalo yang kayak gitu tuh Islam apa sih Put?”

“Islam ya Islam….ga ada Islam apa atau apa. Rasulullah itu kan punya banyak murid, setiap murid bisa aja berbeda dalam menafsirkan ajarannya”. Gitu aja. Dia hanya mengangguk-angguk. Aku ngga yakin dia betul-betul mengerti.

“Lucu kali ya kalo orang-orang (bercadar) itu ngumpul trus suaminya datang salah ngegandeng orang. Mereka kan cuma keliatan matanya doang. Jadi susah dibedain..hahahaha”. Mereka benar-benar menjadikannya bahan olok-olok.

“Trus pernah juga gue ditunjukin foto keluarga gitu, Ibunya pake cadar, anak-anak ceweknya pake cadar, ampe susah dibedain yang mana Ibunya, yang mana si A, yang mana si B”…

“Hahaha….”, lagi-lagi.

“Kalo orang bule ke Arab gimana ya? Mesti pake yang kayak gitu juga ga sih?”

“Itu sih gimana si bule menyesuaikan diri aja. Contohnya kayak orang bule datang ke Indonesia. Mereka harus berpakaian sopan dong, sesuai budaya disini, ngga bisa buka-bukaan kayak di negara mereka.”, jawabku.

“Oh…jadi jilbab atau cadar itu budayanya orang Arab”

“Bukan budaya. Kalau di kita sih pakai jilbab itu wajib, ngga cuma orang Arab”

“Maksudnya kok ampe tertutup banget gitu ya? Di Arab kan panas, emang mereka ngga kepanasan?”

“Iklim juga mempengaruhi cara berpakaian muslimah disana. Lelaki Arab cenderung punya nafsu yang lebih besar”

“Itu karena cewek-cewek disana pada tertutup semua, jadi kalo liat daging dikit aja pasti bikin cowok-cowok disana nafsu”

 Yang lain mengamini, “Iya. Habis dari dulu cewek-cewek disana pakaiannya tertutup. Coba kalo dari dulu mereka ga (berpakaian tertutup) kayak gitu, pasti cowok-cowok disana juga biasa aja. Contohnya kayak di Amerika. Orang kan bebas berpakaian terbuka kayak gimana pun, makanya angka kasus pemerkosaan disana itu kecil. Lagian disana udah boleh free sex juga.”

Oh Allah….bahkan mereka membandingkan kami dengan bangsa b*j*d itu. Dimana manusia bertingkah laku hanya mengikuti nafsu layaknya b***tang.

Seringkali, DIAM, tidak menyelesaikan masalah, tidak juga menyelesaikan kedongkolan dalam hati, bahkan bisa menimbulkan prasangka lain lagi. Tapi….saat itu aku hanya diam. Pikiran mereka telah terlanjur dipenuhi berbagai prasangka (buruk). Satu kata dariku hanya menimbulkan lebih banyak prasangka dari mereka.

Oh Allah maafkan sikap diamku. Seharusnya aku bisa bersikap lebih tegas.

Advertisements