Aku udah selesai baca “Catatan hati Seorang Istri”. Asma Nadia dan kawan-kawan…..

Buku yang layak dibaca. Tapi…jujur…membuat aku ngeri membayangkan kehidupan para istri di buku itu yang pengalamannya…luar biasa menyakitkan. Dikhianati, dikhianati, dikhianati, atau disakiti dengan cara lain….Mungkin buku itu tidak cukup mewakili catatan hati seorang istri yang memiliki kehidupan yang bahagia bersama suaminya. Tapi catatan demi catatan di buku itu berhasil menarikku kembali ke masa sekitar 8 tahun silam dimana sebuah kasus menyakitkan seperti itu pernah membuatku sampai berpikir,”Kalo Mamah dan Bapak pisah, aku harus ikut siapa?”

Hanya salah paham….semuanya terselesaikan dalam hitungan minggu. Lama. Tapi yang terpenting bayangan-bayangan buruk tentang perpisahan itu tidak pernah terjadi.

Selalu begitu…perseteruan antara orangtua selalu menimbulkan korban lain yang mungkin lebih tersakiti hatinya. Anak. Ya…dan aku pernah merasakan posisi yang sangat tersakiti itu. Mau kabur, tapi kemana? Mau mendamaikan, tapi dengan cara apa? Mau apa-apa, kok serba salah? Akhirnya aku hanya diam. Berangkat ke sekolah sepagi mungkin. Pulang sesore mungkin. Beranjak ke kamar tidur secepat mungkin. Menghindar. Aku ngga mau air mata ini tumpah di depan kedua orangtuaku. Dalam keadaan terlemah pun aku tidak ingin mereka melihatku lemah. Sehari…dua hari…seminggu…lebih dari seminggu, aku tidak ingat lagi dalam hitungan berapa lama perseteruan hebat itu (akhirnya) berakhir. Hanya suatu pagi, 8 tahun silam, aku merasakan kebahagiaan yang sangat ketika kedua orangtuaku sudah tidak lagi saling menegangkan urat mukanya.

 

Untuk orangtua manapun di dunia….bacalah catatan hati dari seorang anak ini.