Hari ini aku berkesempatan ngecek saldo di rekening. Bertambah berapakah saldoku setelah gajian 25 kemaren. Tarraaaa!!!! Serius nih??? Alhamdulillah…lemburku selama sebulan terakhir ini terbayar juga hari ini. Belanja apa ya???? (Hahahaha….tuh kan mulai mikir konsumtif deh….parah!!!). Ngga ketang, yang masuk dalam daftar belanjaan utamaku sih buku. Besok kan Islamic Book Fair 2009 mulai dibuka di Istora Senayan. Whuaaahh….senangnyaaaa…..kan aku udah ngincer banyak buku yang masuk dalam list belanja. Sebenernya sih pengen banget beli lanjutan Bumi Manusia di Tetralogi Buru. Tapi, ada ngga ya? “Kayaknya ngga deh”, jawab hatiku pesimis.

 

Tapi ngomong-ngomong….syukurku seharusnya berlipat-lipat hari ini. Karena diantara banyak staf di kantorku yang ‘kurang beruntung’, aku masih termasuk salah satu yang ‘beruntung’. Sabar ya teman-teman, aku cuma bisa berempati…..hal yang sama aku alami 2 bulan yang lalu, dan semuanya membuatku merasa diperlakukan TIDAK ADIL oleh dunia (Hahaha…berlebihan).

Tapi, dengan kejadian itu, aku bisa mengambil pelajaran tentang salah satu ‘sifat dasar’ manusia, yaitu….semacam ‘egois’ tapi….yang lebih halus dari itu…yaitu…”Apa ya?”

Yang pasti teori-teori yang menyatakan bahwa manusia itu cenderung selalu memikirkan kepentingan/kebutuhan pribadinya, itu benar menurutku. Dimana di beberapa buku kepribadian aku membaca bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan orang lain, diantaranya dengan selalu membuat orang lain merasa penting: dengan mengingat namanya, dengan mendengarkan kata-katanya, dengan memberikan perhatian lebih pada kehidupan pribadinya.

Surat pembaca ‘heboh’ yang ditulis oleh salah seorang ‘korban’ ‘ketidakadilan’ perusahaan tempatku bekerja (ngomong-ngomong…kok banyak banget tanda kutipnya ya?), dengan mengatasnamakan ratusan karyawan yang bernasib sama dengan si penulis surat, mungkin berangkat dari kekecewaan pribadi si penulis yang merasa hak pribadinya tidak terpenuhi. Hal yang sama seperti yang kurasakan 2 bulan lalu. Ingin protes, tapi pada siapa? Toh…dari awal kebijakan perusahaan seperti itu. Tidak akan ada yang mendengarkan atau membela, lagipula saat itu aku hanya minoritas orang-orang ‘yang kurang beruntung’, yang menjadi ‘korban’ ketidaktahuan. Perasaan kecewa dan sakit hati yang kurasakan saat itu, mungkin perasaan yang sama yang dirasakan ratusan teman-temanku tanggal 25 kemarin. Aku hanya bisa berempati, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.

 

Ngomong-ngomong soal ’empati’, jadi pengen tau definisi resminya….

 

Yang aku dapet dari beberapa sumber:

 

Menurut Wikipedia, empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan/emosi orang lain.
Empati dapat juga diartikan kesanggupan untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain
dan kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain.
Empati membuat kita dapat turut merasa senang dengan kesenangan orang lain,
turut merasa sakit dengan penderitaan orang lain, dan turut berduka dengan kedukaan
orang lain.

Sementara menurut sumber yang lain lagi:

Empati adalah kemampuan menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam.

Empati adalah kemampuan dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut.

Empati adalah kemampuan dalam melakukan respon atas keinginan orang lain yang tak terucap.

(dikutip dari blog Soliter, maaf ya Kang, aku kutip kalimatnya)

 

Setelah membaca definisi ‘empati’ ini, aku malah kembali memikirkan kalimatku sebelumnya.

Benarkah aku sudah ‘berempati’ hanya dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan, hanya karena aku pernah merasakan perasaan yang sama dengan mereka? Tapi….tidak ada yang bisa kulakukan. Tepatnya….aku memang tidak melakukan apapun untuk mereka. Lalu apa bedanya ‘empati’ menurut definisiku dengan rasa ‘kasihan’? Toh ‘kasihan’ pun adalah suatu perasaan mirip-mirip empati, tanpa ada kemampuan dari si pemilik perasaan ‘kasihan’ untuk melakukan tindakan. Jadi…terlalu cepat menyimpulkan, “Aku berempati”. Begitu ya?