Pulang malam seperti biasa….dan sesampainya di lantai 2 rumah kost aku masih menyaksikan tumpukan baju kotor di keranjang dekat pintu kamar tidak berubah sejak tadi pagi.

“Ibu cuci kemana? Kok hari ini ngga nyuci…”, batinku.

Langka pertanyaan seperti itu muncul, karena tanpa kontrak hitam di atas putih pun Ibu Cuci selalu datang setiap hari, tak terkecuali hari Minggu.

Malam berikutnya….

Cucian itu bertumpuk lebih banyak dari hari sebelumnya. “Ibu Cuci hari ini ngga datang lagi.” Kali ini bukan tanya, tapi semacam kedongkolan yang hanya terungkapkan dalam hati.

Baru kali ini Si Ibu Cuci ‘mengecewakan’ku. Menurutku,”Tidak sesuai dengan kontrak tak ternyatakan antara dia dengan para penghuni kost”. Wanprestasi.

Tapi kemudian aku menyadari bahwa ‘kesalahan’ (jika itu layak disebut sebagai suatu kesalahan) si Ibu Cuci tidak lebih banyak daripada jasa yang diberikannya selama ini. Kami tidak pernah berterimakasih untuk pekerjaan yang sewajarnya dia lakukan setiap hari itu. Tapi kenapa kami harus dongkol ketika sehari saja si Ibu Cuci tidak menunaikan pekerjaannya. Lupa ketika ada…tapi kehilangan ketika tiada.