Semalam, dua orang teman sekampusku dulu menginap di kost. Senangnya…

Walaupun malam itu aku ngga lembur sampe malam banget (jam 21.00 udah pulang, Alhamdulillah…), tapi sesi ngobrol-ngobrol sama teman lama selalu menarik kapan dan dimana pun, dalam kondisi bagaimanapun, termasuk tadi malam, walaupun badan ini udah kayak remuk rasanya menjalani hari-hari lembur, ditambah batuk kering yang ngga sembuh-sembuh sejak beberapa hari yang lalu, aku tetap baru tidur di atas jam 1 dini hari.

 

Dua orang temanku ini termasuk dua orang yang sering kucekoki dengan cerita mimpi-mimpi masa depanku. Rancangan hidupku dari mulai lulus kuliah sampai beberapa tahun ke depan. Mereka tahu, aku ngga pernah berubah, termasuk rancangan hidupku yang juga tidak pernah berubah.

 

Menurutku, sebuah peta hidup itu PENTING. Mau jadi apa kita di masa depan harus direncanakan dari sekarang. Setiap orang punya cita-cita dan prioritasnya masing-masing, jadi ngga ada yang salah dengan keinginan seseorang di masa depan yang mungkin ngga sama dengan yang kita pikirkan tentang masa depan kita.

Aku punya masa depanku sendiri. Rancangan masa depanku tidak akan terpengaruh oleh rancangan masa depan orang lain, termasuk soal pekerjaan.

Mengapa aku memberikan penekanan pada “Pekerjaan”? Karena salah satu topic pembicaraan kami semalam adalah soal ‘Pekerjaan’. Biasalah…obrolan anak-anak yang baru lulus kemaren sore. Heuh…cape deh, seringkali aku berbeda pemikiran ketika membicarakan topic ini bersama teman-temanku.

 

Jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika mengantar dua orang temanku ke Job Fair. Aku melihat bagaimana antusiasme mereka memasukkan lamaran ke banyak perusahaan (yang sebagian besar perusahaan asing) yang menawarkan gaji yang tidak sedikit. Tidak ada yang salah. Hanya saja aku sedikit menyesalkan ketika kuperhatikan mereka hanya melihat kesuksesan seseorang dari banyaknya uang yang masuk kantong. Betapa mereka begitu bersemangatnya menceritakan para pendahulu mereka yang berhasil masuk perusahaan-perusahaan asing itu dengan imbalan gaji yang sangat tinggi. Tidak ada yang salah. Setiap orang punya rezekinya masing-masing yang tersebar di seluruh muka bumi ini, termasuk di perusahaan-perusahaan asing itu. Hanya saja (lagi-lagi), aku sedikit menyesalkan sempitnya jangkauan pandangan mereka sampai bisa bilang, “Bego!” kepada orang yang mempertahankan idealismenya untuk bekerja sebagai ‘abdi negara’.

Ini nyata…

Waktu itu, sepulang dari job fair kami bercakap-cakap, termasuk mempercakapkan seorang teman kami yang lain (si cum laude dari ITB, yang ditawari pekerjaan dari sana sini dengan gaji yang sangat besar untuk ukuran fresh graduate), tapi ternyata dengan mantapnya dia menjawab, “Tidak!” untuk semua tawaran itu. Alasannya? Dia memilih untuk bekerja di perusahaan negeri dengan bekal idealismenya, bahwa Indonesia lebih membutuhkan orang-orang seperti dia. Gajinya tentu tak sebesar gaji yang akan diterimanya jika dia bekerja pada perusahaan asing. Dan aku tiba-tiba merasa sangat tersinggung ketika kedua orang temanku itu mengomentari keputusan teman yang sedang kami bicarakan, “Bego…sayang banget sih. Ya ampun…masa perusahaan segede itu ditolak dan malah milih kerjaan yang lebih kecil penghasilannya?!?!”.

Aku sama sekali tidak setuju dengan cara mereka memandang suatu pekerjaan yang hanya dilihat dari besarnya gaji yang dihasilkan. Dan lebih tidak setuju lagi jika mereka menganggap keputusan seseorang itu salah hanya karena perbedaan paradigma terhadap suatu hal yang diputuskan.

Aku selalu percaya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, dan kita tidak perlu menganggap jalan hidup yang kita pilih lah yang terbaik. Setiap orang (yang berpikir) pasti menyadari betul konsekuensi dari apa yang dia pilih. Dan kalau kita mau sedikit memperhatikan, ada banyak alasan pendukung yang memantapkan seseorang melangkah di jalannya masing-masing. Lagipula ada campur tangan Allah ketika seseorang memilih A, tapi orang yang lain memilih B. Hanya Allah lah yang kuasa membolak-balikkan hati manusia, sehingga tidak setiap orang memilih jalan hidup yang sama.