Di radio klien, sayup-sayup terdengar lagu yang dinyanyikan Ello, beberapa orang di situ berkomentar (bergosip – tepatnya) tentang Ello.

Masa bodo dengan Ello dan gossip-gossipnya….

Karena…seketika itu, ingatanku langsung terbang ke masa 4 tahun lalu, di masa aku mengenal sesosok lain bernama Ello.

Ello yang kuning, Ello yang ganteng, Ello yang……..berekor.

Oh…Ello..Ello…satu-satunya kucing yang membuatku penasaran karena begitu sulit menaklukkan hatinya. Dia jinak. Peliharaan Teteh tetangga kamar di kostan. Tapi…dia sama sekali tidak mau didekati apalagi dibelai. Sesekali aku sempat sedikit menyentuhnya (hanya menyentuh) ketika dia lengah, itupun langsung ditanggapi dengan ‘jutek’.

Nama aslinya adalah Yellow. Sederhana, karena bulunya kuning. 

Tapi apa yang menarik? Di kalangan kucing-kucing, dan di antara banyak kucing yang kukenal sepanjang hidupku, dialah kucing yang paling ‘cakep’. Seandainya di dunia perkucingan ada dunia selebritis dan model, maka bisa dipastikan dia menjadi salah satu top modelnya. Hehehe…

Ini beneran lho…tidak bermaksud melebih-lebihkan cerita. Bahkan teman kostanku yang lain, yang tidak punya perhatian khusus sama kucing mengakui bahwa Ello itu….ganteng dan cool. Hahaha…

Tenang…tenang…setelah tulisan ini diturunkan, kalian ngga perlu menganggapku ngga normal, karena bilang si Ello ganteng lah, si Ello cool lah, aku masih menyukai makhluk sesama spesiesku kok. Hoho.. .

Terus, kapankah aku mulai bisa menaklukkan si Ello?

Entahlah. Tidak tahu pasti kapan dan bagaimana ceritanya, si Ello, pada akhirnnya, mulai mau dibelai. Sejak lahir dia tinggal di lingkungan kostan kami, dan tak ada satupun yang berhasil membuatnya mau dibelai, dan sebenarnya…..ngga ada yang peduli juga sih, selain aku, mungkin, dan salah satu teman gilaku, yang sama-sama suka ‘mengoda’ Ello. Dulu berbagai macam cara kami lakukan hanya untuk membuat Ello ‘melirik’ kami. Di beberapa kesempatan kami berhasil mengunci dia di dalam kamar dengan tipu muslihat ranjau ikan asin. Dan…kalap…Ello benar-benar kalap setiap terkunci di dalam kamar. Mengeong-ngeong, berusaha memanjat jendela, meraih-raih gagang pintu. Kami hanya tertawa. Mungkin yang ada di pikiran Ello saat itu, “Cewek-cewek gila ituu!!! Help meeeee…..mereka ingin menodaikuuuu…”.

Ah Ello…kami hanya ingin membelaimu. Itu saja. Tapi kamu terlalu sombong. Terlalu jual mahal. Terlalu sulit untuk ditaklukkan.

Beranjak dewasa, seperti kucing-kucing jantan pada umumnya, Ello pergi. Tanpa pamit. Saat itu, kami sudah mulai dekat dengan Ello. Dia sudah mulai mau dibelai, walaupun, tetap, dengan bujukan ikan asin. Si ganteng itu….si cool itu….entah dimana. I’m officially missing ‘him’?!

 

(Heu..heu…hatiku sedih, temanku menganggapku ‘gila’ setelah membaca tulisan ini…)

 

* Sumber gambar dari sini