“Kerjaan kita tergantung sama ujung jari kita”, tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku ketika aku menunjukkan ujung-ujung jariku yang mengelupas sangat parah kepada temanku. Setidaknya, aku belum pernah mengalami pengelupasan yang lebih parah dari ini sebelumnya. Kulit-kulit ujung jari tanganku mengelupas sampai hampir menyentuh buku-buku jari yang paling atas. Tidak jelas apa penyebabnya (Kebanyakan ngetik? Kurang minum? Kebanyakan ngupil? (Ih jorok!) Atau apa lah…entah!). Hanya saja beberapa hari terakhir ini kulit-kulit di sekitar kukuku memang agak mengeras. Untungnya aku masih bisa menyentuh tuts-tuts di keyboard laptop tanpa merasa sakit sedikitpun. Hanya saja ujung-ujung jariku terasa menjadi lebih kasar dan kebas, agak kurang sensitif.

“Untung ga sakit, kalau pengelupasan ini disertai rasa sakit, aku kayaknya mau cuti kerja aja sampai jarinya baikan”, celotehku kepada teman yang masih setia mendengarkanku bercerita. Kalimat itu sebenarnya terlontarkan dengan nada becanda, dan memang dengan niat untuk becanda. Tapi….ada benarnya juga ya?

Ternyata selama ini pekerjaanku sangat tergantung pada 10 ujung jari tangan ini. Hmm…dua jari telunjuk tepatnya (kan ngetiknya pake 11 jari…hehehe…).

 

Betapa kita tidak pernah menyadari manfaat keberadaannya, tetapi ketika tidak sempurna, seluruh perhatian menjadi tercurah padanya. Ya…itulah ujung-ujung jari tanganku.