Benar kan? Waktu terlalu cepat berlalu bagiku.

Sudah masuk bulan kedua sejak begitu banyak orang di dunia merayakan pergantian tahun sebulan yang lalu. (Aneh kadang-kadang…menyaksikan banyak cara yang orang-orang lakukan untuk merayakan bertambahnya umur bumi, kadang terlalu banyak kesia-siaan).

 

Beramai-ramai di banyak forum diskusi, radio, acara televisi, atau apapun, pembicaraan menjadi seputar ‘kilas balik’ dan ‘resolusi’.

‘Kilas balik’ adalah sesuatu yang baik, jika isinya berupa renungan, muhasabah, mengingat kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di masa lalu, untuk diperbaiki dan tidak diulangi di masa yang akan datang.

‘Resolusi’, juga baik, jika kita benar-benar berkomitmen menjalankannya. Tidak hanya rencana dan mimpi indah yang tercatat di atas kertas.

Tapi…betapa seringnya kita, termasuk juga aku, merencanakan hal-hal yang besar tanpa ada usaha berarti untuk meraihnya. Mimpi tinggallah mimpi…menguap menjadi angan-angan yang bahkan menjadi tidak mungkin untuk diraih.

Kenapa bisa begitu? Apakah karena mimpi-mimpi kita yang tidak feasible? Kurang usaha? Kenapa semangat resolusi itu hanya membara di awal tahun dan menguap seiring dengan kembalinya kita pada aktivitas melelahkan di perjalanan waktu berikutnya?

 

Dan aku….tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada hal istimewa yang ingin kuraih tahun 1430 H ini (Kita ga lagi ngomongin tahun baru 2009 masehi kan? ). Ga juga berarti aku membiarkan waktu berlalu tanpa ku terlibat dalam kebaikan di dalamnya. Aku hanya ingin menjadi orang yang lebih baik. Heh…sangat luas penafsirannya. Seandainya Allah berkenan, aku masih ingin mengecap berbagai pengalaman di tempatku bekerja saat ini.

Tapi yang sangat kusadari tahun ini adalah, betapa aku bukan lagi seorang anak yang sepenuhnya tergantung sama orang tua. Aku punya kehidupanku sendiri, dan pilihan hidupku sendiri. Segala keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sepenuhnya merupakan tanggung jawabku (kalo ini sih emang berlaku sejak aku ‘dewasa’ delapan tahun yang lalu).

 

Tiba-tiba teringat satu percakapanku sama Mamah, beberapa bulan silam di tahun 2008.

“Put, Mamah itu dulu nikah dua bulan sebelum umur 23 lho…berarti kalau Put ngikut Mamah, Put tuh harusnya nikah bulan Februari 2009”. Ya…tahun ini aku 23.

Kalimat itu sebenarnya disampaikan Mamah di saat kami berada dalam keadaan santai, ketika kumpul keluarga, tanpa nada menuntut sedikit pun. Tapi, sungguh Mah, kata-kata itu selalu terngiang-ngiang hingga sekarang. Apalagi sekarang udah masuk bulan Februari, “Berarti Mah, kalau Put ngikutin Mamah, Put nikah bulan ini dong ”, aku hanya bergumam dalam hati (yang akhirnya dituliskan juga disini).

 

Semuanya ada yang ngatur kan? Minta yang terbaik aja sama Allah.