Pagi ini di kamar kost…

 

“Hari ini Jumat kan? Soalnya aku lagi males nih pake kemeja formal, mau pake kaos aja…hehehe….”

Dengan mantapnya aku menjawab, “Kamis”

“Oh iya ya Kamis…”

“Nyantai aja lagi…aku juga kadang-kadang pake baju yang ga terlalu formal walaupun bukan hari Jumat, lagian di kantor orang ini, bodo amat..”, kataku cuek.

“Iya sih…”, temanku mengamini.

 

Di perjalanan menuju halte busway…

 

Beberapa kali aku berpapasan dengan orang-orang berbatik, “Tumben” batinku, “Padahal masih hari Kamis”. Sampai beberapa saat kemudian aku hanya tersenyum, mengingat hari apa sebenarnya ini, “Oh ya…ini hari Jumat, benar kata temanku, tapi kok dia mengiyakan ketika dengan mantap kubilang ini hari Kamis?!”

 

Ini bukan yang pertama kalinya kami saling menanyakan, “Hari apa ini?”. Dan salah seorang dari kami pasti dengan mantap menjawab bahwa, “Ini hari Rabu…” atau “Kamis” dan seterusnya…

Lucu…kadang. Hanya ada tujuh hari dalam seminggu, dimana kami hanya bekerja lima hari dalam minggu tersebut, dan kami masih harus bertanya mengenai hari. Mungkin karena ga ada kalender di kamar kami? Mungkin kami memang tidak ingin tahu menahu soal waktu? Karena semakin diingat, waktu terasa berjalan semakin lambat. Ketika kami sadar bahwa ini masih hari Senin, Selasa, atau yang lainnya, hanya dengan tarikan nafas panjang dan hembusan mendalam kami mengeluh, ”Hhhh….masih hari ini….atau itu….”, atau ketika kami sedang berada di kantor atau klien, memperhatikan jam yang ternyata masih jam 15.00 misalnya, maka kami kembali akan menghembus nafas panjang dan membatin, “Aduh…masih jam 3, belum waktunya pulang”, waktunya pulang pun kemungkinan kecil Teng Go, kami bisa bekerja lebih dari jam kerja.

 

Tapi, seberapa efektifkah aku menggunakan waktu untuk menggapai mimpi masa depan?

Selama ini, aku hanya menjalani hari demi hari. Semakin jarang melihat penunjuk waktu, semakin aku merasa begitu cepat waktu berlalu, dan semakin tersadar betapa banyak waktu yang kulewatkan sia-sia. Tanpa ada tambahan berarti dalam hidupku…ga nambah pintar, ga nambah kaya, ga nambah deket sama Allah, ga nambah baik, ga nambah berat badan (hehe..), ga nambah manfaat buat orang-orang sekitar, ga nambah apapun. Sia-sia? Ya…bahkan sangat RUGI, banyak waktu dalam hidupku dihabiskan dengan tidak menambah pundi-pundi bekalku untuk kembali padaNya suatu hari nanti. Atau perasaan ini hanya muncul karena ada indikasi ketidakikhlasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari? Mungkin. Tapi aku harus terus belajar menjadi orang yang lebih baik, yang tidak melewatkan setiap saat pun hanya untuk melakukan perbuatan sia-sia.