Ga berlebihan jika aku mengatakan itu, nyatanya Bandung memang mencintaiku. Hehe..GeeR.

Di Kota itu lah aku merasa hidup ringan tanpa beban, walau harus boros sekalipun.

Liburan sejak tanggal 24 Januari kemarin merupakan kesempatan pulangku yang pertama sejak menerima gaji pertama. Sudah kurencanakan dengan matang, apa saja yang akan kukerjakan di Bandung selama liburan 3 hari, dan sebenarnya semua itu tidak terlepas dari aktivitas menghabiskan uang. Hehehe…tapi Insya Allah, sebagian besar uang yang kubelanjakan bisa dikategorikan sebagai asset tetap. Asset dunia maupun (Insya Allah) asset akhirat. Amin.

Ketika travel, yang membawaku, keluar dari pintu tol Pasteur sekitar jam 8 pagi di hari Sabtu 24 Januari kemarin, kerinduanku akan Kota Bandung dan orang-orang terdekatku disana semakin memuncak. Aku benar-benar merindukan Kota ini dengan kehidupannya yang damai membuat hati nyaman, udaranya yang sejuk membuat beban terasa lebih ringan, dan penduduk berlogat Sundanya yang ramah membuatku merasa aman. Dan sesuai rencanaku, tujuan pertamaku di Kota ini adalah Kios Buku di Jalan Gelap Nyawang, yang berada di daerah belakang Masjid Salman, ITB. Ini adalah salah satu sudut favoritku di Kota Bandung. Masjid Salman menyimpan banyak kenangan bersama saudara-saudara dan Teteh-Tetehku di banyak hari di setiap pekan pada masa-masa kuliahku. Tempat ini, bagaimanapun suasana hatiku saat mengunjunginya, selalu berhasil membuatku merasa nyaman. Bahkan dulu jika mulai merasa suntuk dan jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang seringkali membosankan dan melelahkan, secara sengaja aku menyempatkan diri mengunjungi tempat ini sekedar untuk duduk, makan di kantinnya, atau berjalan-jalan di Taman Ganeca sambil memperhatikan orang-orang yang juga tampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing.

Tiba-tiba jadi teringat kejadian pada suatu pekan, di hari yang ditentukan sebagai jadwal mengajiku bersama teman-teman. Sejak pagi di hari itu, bahkan sejak malam sebelumnya, perasaanku sangat tidak nyaman. Kelelahan fisik ditambah pikiran yang terus tidak tenang menyangkut hubunganku dengan seorang sahabat membuatku enggan melakukan apapun, sambil terus mencari pembenaran bahwa kalaupun nanti aku ga datang mengaji itu bukan 100% karena kesalahan dan kelalaianku. Aku menyalahkan Allah (Astaghfirullah…), karena merasa begitu banyak yang dibebankan padaku selama beberapa hari terakhir tanpa ada secercah cahaya pun untuk kujadikan panduan menemukan solusi.

Di sore itu (di hari yang kami jadwalkan untuk mengaji), beberapa kali ponselku berdering, hanya Missed Call dari beberapa saudara sekelompokku. Hari itu aku memang merasa sangat berat melangkahkan kaki ke tempat yang sebenarnya sangat diberkahi oleh Allah itu (Insya Allah). Sepanjang siang menjelang sore, aku berusaha memaksakan mata ini untuk terpejam dan bangun ketika jadwal mengaji sudah lewat, jadi kupikir kalaupun aku tidak hadir, aku ga bisa disalahkan karena tidur adalah salah satu nikmat Allah yang patut disyukuri (dalam hal ini tentu saja ini ‘nikmat’ yang secara paksa aku ambil dari ‘tangan’ Allah). Tapi aku tak bisa, hatiku tidak tenang, perasaan bersalah menggelayutiku karena aku sama sekali tidak izin ke Teteh. Tapi, lagi-lagi hatiku menolak untuk disalahkan, aku terus menyalahkan Allah, karena merasa begitu berat – terutama, beban pikiran – yang kurasa tanpa ada sedikitpun tanda-tanda pertolongan Allah akan datang. Tapi…rasa bersalahku semakin besar, mengalahkan ‘ngambek’ku sama Allah. Sore itu, sekitar jam setengah enam, lewat 2 jam dari jadwal mengaji yang seharusnya, dalam keadaan di luar kost yang sangat mendung dan gelap, aku memutuskan memaksakan diri melangkah ke Masjid Salman. Aku berusaha menegarkan diriku, berharap pertolongan Allah datang dengan datangnya aku ke majelis itu. Sesampainya di sana, aku disambut dengan senyum dan sapaan hangat dari saudara-saudaraku, sama sekali tidak ada wajah menyalahkanku walaupun aku sudah tidak disiplin hari itu. Saat itulah aku merasa pertahanan ketegaranku runtuh. Aku bahkan ga bisa menahan tangis ketika menyalami dan memeluk saudara-saudaraku satu per satu. Mereka hanya memandangku heran, datang terlambat dan tiba-tiba menangis. Beberapa bahkan berusaha menghiburku, padahal tidak ada satupun di antara mereka yang tau permasalahanku, mungkin sampai sekarang. Tapi itulah hikmah berkumpul dengan orang-orang shaleh, aku merasa mendapatkan kekuatanku kembali sore itu. Walaupun beban yang kutanggung masih sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati, aku merasa sangat bersyukur ada banyak saudara yang bersedia kubasahi jilbabnya dengan air mataku.

 

 

Terima kasih Nita, Cumi, Erdin, Leni, Irma, dan Siti serta The Yusda. Aku sangat merindukan saat-saat kebersamaan bersama kalian….