Setelah seharian menghabiskan waktu (dan duit hehe..) mengunjungi beberapa tempat di Kota Bandung, walaupun dengan bawaan yang masih lengkap dari Jakarta, akhirnya aku sampai juga di rumah. Ada satu hal yang sangat ingin kulihat di rumah, yaitu kamar dan rak buku baruku. Suatu hari beberapa hari sebelum kepulanganku ke Bandung, Mamah ngesms, “Put lemari baju dan rak bukunya udah beres”. Alhamdulillah… Sejak ‘meninggalkan’ rumah selepas SMP dulu, aku memang ga pernah punya kamar sendiri. Sampai SMP, aku masih punya tempat tidur sendiri, meja belajar sendiri, dan lemari sendiri. Tapi sejak aku masuk SMA berasrama di Magelang, segala barang-barang pribadi itu tak lagi berada di ruangan pribadiku. Semuanya Mamah pindahkan ke ruangan berlabel “Kamar anak-anak”. “Efisiensi ruangan..”, kilah Mamah, “Lagian kan Put cuma pulang setahun dua kali, itupun ga sampai sebulan di rumah”. Iya, ga apa-apa, aku sama sekali ga keberatan. Apalagi pekerjaan Bapak menuntut kami berpindah-pindah rumah dinas. Dan selama aku di SMA, tercatat sudah dua rumah dinas yang keluargaku singgahi. Di dua rumah itulah aku mulai tidak memiliki kamar sendiri. Hal itu berlanjut sampai aku kuliah. Aku kuliah di Bandung, sementara keluargaku di Kuningan. Walaupun jarak Bandung-Kuningan ga sejauh jarak Magelang-Kuningan, tapi kebiasaanku jauh dari orang tua membuatku jarang pulang ke rumah, walaupun misalnya ada beberapa hari libur yang memungkinkanku menghabiskan waktu bersama kelurga. “Males…”, alasanku, yang kadang membuat teman-temanku terheran-heran, “Emang ga kangen ya sama keluarga?”. “Bukannya ga kangen, cuma rasanya cape di jalan, apalagi kalo liburnya sekedar dua atau tiga hari”. Begitulah….saat kuliah pun aku ga memiliki kamar sendiri di rumah. Dan kost-an, walaupun bukan hak milik, jadi tempat favorit dan private banget ketika aku menginginkan kesendirian. Bahkan aku bisa dengan mudahnya mengabaikan teriakan teman-teman yang memanggilku dari luar kamar jika aku benar-benar tidak ingin diganggu (Maaf ya Pren). Paling mereka hanya akan mengira, “Oh..Put-nya lagi ga ada di kamar”. Seiring waktu berlalu, Bapak pun mendekati usia pensiunnya. Tepatnya bulan Maret tahun ini Bapak pensiun. Dan inilah yang seringkali Mamah sesalkan, sehingga tak henti-hentinya mengingatkan anak-anaknya agar jangan melakukan kesalahan serupa, yaitu, belum memiliki rumah sendiri bahkan ketika Bapak hampir pensiun. Rumahku di Bandung baru mulai dibangun sekitar 3 tahun yang lalu, itupun dikerjakan dalam rentang waktu yang cukup lama. Karena bisa dibayangkan, sungguh berat untuk kedua orang tuaku yang berpenghasilan PNS membiayai pembangunan rumah sambil membiayai (saat itu) dua anak yang masih kuliah, seorang anak yang beranjak kuliah, dan seorang anak yang masih sekolah. Tapi, Alhamdulillah…kebutuhan pokok kami (anak-anaknya) sebagai mahasiswa dan siswa tidak pernah terabaikan. Bahkan aku hampir selalu mendapatkan apa yang kubutuhkan untuk menunjang kuliahku. Kembali pada pembicaraan soal ‘Kamar Pribadi’, akhirnya aku mendapatkannya lagi setelah tujuh tahun tidak pernah memilikinya. Yang lebih menyenangkan, perabotan di kamarku juga semuanya baru (kecuali tempat tidur). Dan adalah sudut favoritku di kamar…..di suatu sisi kamar dimana berdiri sebuah rak buku disana. Sudah lama aku menginginkannya. Koleksi bukuku memang tidak terlalu banyak, tapi aku sangat membutuhkan rak buku yang layak untuk melindungi buku-bukuku dari berbagai hal yang membuat buku-bukuku kotor, kusut, terlipat, atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Kata teman-teman kuliahku dulu, “Kamu overprotective ya Put sama buku…”. Bukan begitu, tapi….bisa juga begitu. Aku bisa kehilangan nafsu membaca jika menyaksikan buku yang kubaca ‘jelek’. Lagipula aku hanya berusaha memperlakukan buku-bukuku sesuai haknya. Ada yang bilang, “Makin kusut berarti tuh buku makin sering dibaca”. Hmmm…ga juga. Walaupun sering dibaca, kalo yang baca ngga jorok, buku akan tetep kelihatan seperti baru. Masih berkaitan dengan buku, bahkan aku pernah merasa dongkol sampai lebih dari seminggu gara-gara buku-bukuku kotor ketumpahan jus, yang warna dan baunya ga bisa hilang sampai sekarang. Waktu itu, aku tampak sedikit menyalahkan temanku yang kuanggap jadi tersangka, sampai akhirnya aku merelakan buku-buku itu tidak kembali ke kondisinya semula. Di waktu yang lain, temanku dengan sangat rapi membungkus bukuku dalam kantong plastik ketika hendak meminjamnya, “Takut kotor dan kehujanan…”, katanya. Dan yang paling lucu, temanku membelikanku buku baru yang sama persis dengan bukuku yang dipinjamnya hanya karena bukuku jatuh dan sedikit kotor. Hahaha…mereka terlalu berlebihan menilaiku overprotective terhadap buku. Padahal ketika menyaksikan bukuku teraniaya, aku paling cuma berekspresi sangat kaget sesaat setelah buku itu mendapat perlakuan yang tidak layak, dan melupakannya beberapa lama kemudian.