Di Jalan Gelap Nyawang ada beberapa kios buku yang lebih banyak menjual buku-buku Islam, dengan harga-harga miring, dan diskon hingga 30%. Kios-kios kecil dan sederhana itu tepatnya terletak di sebelah selatan Masjid Salman. Walaupun kecil, kios-kios itu cukup lengkap untuk memenuhi hasrat kita mendalami Islam. Pagi itu, aku sengaja mengambil jalan melewati halaman Masjid Salman, walaupun akan lebih cepat jika aku melewati jalan lain di luar Masjid tanpa harus masuk ke kompleks Masjid. Sengaja aku tak mempercepat langkahku, mencoba menikmati hari bebas yang tidak terikat oleh jenis pekerjaan apapun. Damai sekali, apalagi pagi itu udara terasa masih sangat segar. Kendaraan pun masih jarang yang berlalu-lalang.

Hari ini aku memang berencana membeli buku, setelah entah sekian lama membiarkan rak bukuku tetap dengan koleksi buku-buku lamanya. Akhirnya aku menemukan beberapa buku yang menarik minatku. Satu buku, dua buku, tiga buku, satu persatu buku-buku itu kutumpuk di depan Si Bapak penjual buku, tanpa menanyakan lagi berapa harganya. Padahal saat itu, aku tidak membawa banyak uang tunai. Akhirnya ada tujuh buku yang kuputuskan untuk kubeli, dengan total harga melebihi anggaranku semula. Ah, tapi apalah artinya anggaran dibandingkan dengan kepuasanku membaca buku-buku itu. Nyatanya, sampai sekarang, aktivitas ‘menghabiskan uang’ yang tidak pernah kusesali adalah aktivitas ‘membeli buku’. Dan hari ini aku membeli buku-buku bacaan ringan yang kebanyakan menceritakan pengalaman sehari-hari, dengan bahasa yang sangat ringan. Kecenderungan jenis bacaanku sedikit berubah setelah bekerja. Rasanya, pikiranku sudah cukup banyak dipusingkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung selesai. Dan membaca adalah salah satu saat mengistirahatkan diri dari rutinitas pekerjaan yang terkadang membuat penat. Tapi yang lucu, ketika aku menyadari buku-buku dengan isi cerita seperti apa yang baru saja kubeli.

Ada buku ‘Karenamu Aku Cemburu’nya Asma Nadia dkk yang berisi cerita pengalaman sehari-hari para istri menyikapi rasa cemburunya terhadap suami. Ada buku ‘Catatan Bunda Neno Warisman’, yang berisi pengalaman-pengalaman Bunda Neno dalam mendidik putra-putrinya secara Islami. Ada juga buku ‘Catatan Hati Bunda’nya Asma Nadia yang di bagian sudut bawah sampul buku itu tertulis sebaris kalimat berbunyi “…….hadiah terbaik untuk para ibu dan calon ibu”. Ada juga novel ‘Diorama Sepasang Albanna’nya Ari Nur yang kurang lebih menceritakan drama percintaan antara sepasang manusia yang sama-sama mengidolakan sosok Hasan Al-Banna. Buku ‘Catatan Hati di Setiap Sujudku’nya Asma Nadia dkk, serta dua novel Tere Liye, yang direkomendasikan teman untuk menambah koleksi bukuku. Bukan suatu kesengajaan kalo beberapa bukuku memiliki isi cerita yang sangat dekat dengan kehidupan para istri dan para ibu. Terlepas dari bagaimana isi buku dan ceritanya, aku menilai buku-buku itu memang buku yang menarik untuk dibaca, setelah sebelumnya aku sempat membaca beberapa cerita di dalam buku itu dari buku temanku. Tapi…lucu juga…ketika menyadari buku apa saja yang telah kubeli. Bahkan aku ga begitu menangkap maksud si Bapak Penjual Buku ketika dia mengatakan, “Bagus tuh…Belajar dari sekarang…”. Ternyata dia sedang mengomentari buku-buku itu. Alamak…