C100-ku sudah saatnya diganti. Bahkan umur teknisnya pun sudah hampir tidak ada, terbukti dengan seringnya dia mati walaupun baterei diisi full. Dan dengan my first ma’isyah lah akhirnya aku memenuhi keinginanku mengganti C100-ku. Dari Kios Buku di Gelap Nyawang, perjalanan berikutnya yang kurencanakan adalah ke daerah Jalan Merdeka. Disana ada Bandung Indah Plaza, Gramedia, Bandung Electronik Centre, yang ketiganya memang kurencanakan akan kukunjungi.

Di BEC, aku langsung menuju ke dealer resmi HP Samsung (Wah…sebut merek deh…ga apa-apa ya?!), tanpa sedikit pun berminat melihat-lihat HP dari vendor lain. Selama 5 tahun menggunakan C100, belum pernah aku merasa kecewa, karena HP-ku ini termasuk tahan banting, dan ngerti gw banget (masa sih??). C100 inilah yang menjadi raga pertama bagi jiwa Mentariku. Maksudnya?

Jadi di suatu waktu di tahun ketiga SMA-ku, ketika HP sudah mulai menjadi kebutuhan setiap orang dan mulai bukan menjadi barang mewah lagi, aku mendapat hadiah ulang tahun berupa nomor Mentari dari seseorang. Padahal waktu itu aku ga punya HP, lagian sekolahku sangat ketat menyangkut penggunaan alat komunikasi pribadi itu di lingkungan sekolah. Jadilah selama beberapa bulan pertama sejak memiliki nomor itu, aku hanya bisa mengaktifkannya jika ada temanku yang bersedia meminjamkan HPnya. Salah seorangnya adalah seorang teman tetangga kamar yang sudah mulai nekat bawa HP ke sekolah, yang tanpa kuminta sering menawarkan HPnya untuk kupakai selama beberapa waktu. Dari situlah kami mulai menggunakan istilah ‘jiwa-raga’ untuk HP dan simcardnya. Dimana di banyak kesempatan temanku sering meminjamkan raganya untuk kurasuki oleh jiwaku yang membutuhkan komunikasi dengan jiwa-jiwa lain di luar benteng Tarnus sana. Hehe…

Dan per tanggal 24 Januari 2009 kemaren secara resmi jiwa mentariku berpindah ke raga F400, HP Samsung keluaran terbaru yang fiturnya paling sesuai dengan kebutuhanku. Sejak di BEC pula aku mulai mengabaikan C100-ku…betapa malangnya. Tapi aku berencana masih akan menggunakan C100ku sebelum akhirnya kumuseumkan suatu saat nanti, alasan utamanya karena disana masih tersimpan banyak nomor temanku yang belum sempat kupindahkan ke F400 ku.

Tapi ada satu kejadian yang membuatku tiba-tiba sangat merindukan C100ku. Saat itu tanggal 25 Januari subuh. Aku terbangun karena mendengar alarm C100ku berbunyi, sangat nyaring. Padahal saat itu, C100 tidak lagi kunyalakan, bahkan sekarang dia hanyalah sebuah raga yang kesepian tanpa jiwa. Tapi fitur autopower alarmnya bisa tetap membuat alarm berbunyi walaupun HP dalam keadaan tidak aktif. Aku terbangun dan berusaha mencari C100ku. Biasanya dia berada di dekatku di atas kasur, tapi yang kutemukan di dekatku hanyalah F400-ku. Sampai akhirnya aku menemukan C100ku masih tersimpan di dalam tas, belum berpindah sejak di dealer Samsung tempatku membeli F400.

Duh…sedih juga rasanya melihat C100-ku tampak tersia-sia, tapi dia tetap setia membangunkanku di kala tiba waktuku untuk terbangun dari lelapku dan menegakkan raga ini di hadapan Allah untuk menunaikan shalat Subuh.

Thank you, My Red C100…..