Tiba-tiba seseorang bertanya…”Gimana…mulai betah di sini?”

Disini dimana? Gw ga sebut merek ya…disini cukup mewakili segalanya…hehehe…

Hm…

“Yaaa….mulaaii..”

“Mulai betah?”

“”Mmmm…mulai merasa ga menyesal”

Jawab gitu aja mikirnya lama bener…

Tapi begitulah kenyataannya, memasuki minggu keempat kerja di tempat yang ‘fiuh’ ini, aku baru ngerasa nyaman di beberapa hari terakhir.

Minggu pertama merupakan perjuangan berat. Gimana nggak…masuk setengah hati dengan persiapan fisik dan mental yang kurang, bikin aku tertekan, ditambah lagi harus menghadapi kenyataan dipertemukan dengan orang-orang dalam tim yang tidak ada satupun di antara mereka yang bisa mengingatkanku ketika aku lalai. Padahal aku juga masih sering merasa tidak konsisten menjalankan prinsip yang kuyakini, jadi sebenarnya aku butuh orang yang selalu mengingatkanku setiap saat.

 

Minggu kedua….aku merasa hidupku semakin ga seimbang. Kadang aku berpikir lagi, “Apa sebenarnya yang aku cari dalam hidup ini?” “Apakah aktivitas yang aku jalani saat ini menunjang tercapainya tujuan akhirku?”.

Berangkat jam 7 pagi dan melakukan aktivitas yang menggila sampai jam 11 malam., seharian ga bisa membedakan siang dan malam, bahkan ga sekalipun aku mendengar suara adzan, semakin membuatku menyesali mengambil keputusan ini.

Di tempat ini, mungkin aku dapat imbalan materi yang cukup memadai, mungkin aku juga dapat ilmu dan pengalaman yang ga ternilai, tapi semakin hari aku merasa hidupku semakin tidak seimbang. Aku merasa hanya melakukan dua aktivitas utama dalam sehari, yaitu kerja dan tidur, ditambah aktivitas-aktivitas lainnya yang berulang-ulang pada jam yang sama setiap harinya. Ini gila!

Seolah-olah aku ga pernah melakukan kegiatan rutin terjadwal seperti ini sebelumnya…(Ha..ha..ha..jadi inget masa SMA, dimana setiap kegiatanku terkekang oleh jadwal yang itu-itu aja setiap hari dan terulang setiap minggu, tapi aku ga bosen tuh..kenapa ya?!).

Minggu ketiga…semakin menggila. Kondisi semakin buruk dengan pilek yang ga berhenti-berhenti selama lebih dari seminggu. Capek, kurang tidur, dan pergantian musim membuat tubuhku semakin ga bisa berkompromi dengan pekerjaan. Tapi ada hal lain yang membuatku lebih nyaman. Aku mulai bisa cair dengan timku. Setelah dipikir-pikir…ga ada yang salah dengan orang-orang di timku. Mereka menghargai dan menerimaku dengan baik, mereka mengajariku mengerjakan hal-hal yang kebanyakan tidak ku mengerti, dan mereka banyak membantuku. Selama ini aku merasa tidak nyaman karena aku terlalu menutup diri, terlalu berprasangka buruk, dan terlalu tidak mensyukuri apa yang kudapat.

Tapi sebenarnya ada satu hal yang membuatku, akhirnya, tidak lagi menyesal mengambil keputusan ini, yaitu ketika seniorku menceritakan stafnya yang lain yang resign dalam waktu kurang dari 1 minggu setelah mulai bekerja karena merasa tertekan dengan tanggung jawab pekerjaan yang dibebankan padanya.

“Ga kuat mental…”, begitu kata seniorku.

“Dia ngerasa ga bisa ngerjain tugas-tugasnya, dia ngerasa ga bisa memahami banyak hal dalam waktu singkat, dia ngerasa takut menghambat kerjaan tim karena kerjaannya ga beres..”

“Padahal hasil kerjaannya lumayan”

Hmm…disitu aku mulai bersyukur karena walaupun aku merasa sedikit tertekan, aku ga memiliki pikiran senegatif itu. Apa yang diungkapkan seniorku tentang alasan resign-nya si staf baru itu adalah hal-hal yang terlintas di pikiranku selama bekerja 3 minggu terakhir ini, hanya saja aku memandang itu semua sebagai sebuah proses yang harus dilalui untuk menjadi orang yang lebih baik. Selama ini aku hanya berusaha melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan, dan memposisikan diri sebagai orang yang ga ngerti apa-apa, yang siap mendengar berbagai penjelasan, masukan, dan kritikan apapun dari seniorku.