Semakin seperti dejavu…

Setiap hari melakukan aktivitas yang hampir sama, dan semakin hari aku bahkan semakin tidak memikirkan, “Apa yang akan kukerjakan selanjutnya?”, karena semuanya berjalan begitu saja. Kakiku pun tau kemana harus melangkah tanpa harus mengerahkan otakku untuk memerintahnya.

Kerja…1 fase kehidupan berbeda yang harus aku jalani setelah lulus menjalani 1 fase kehidupan yang lain. Dan melalui aktivitas ‘kerja’ inilah aku merasa semakin memahami diriku. Ternyata….aku ga suka rutinitas kayak gini. Harus berada di kantor jam 8.30 pagi dan baru boleh pulang setelah jam 17.30. Makanya kenapa ga pernah terlintas sedikit pun di pikiranku untuk bekerja di tempat yang menuntutku harus datang di suatu tempat pada jam yang sama setiap hari.

Dan ketika berbagai lowongan pekerjaan – dari perusahaan-perusahaan yang namanya cukup familiar, atau dari berbagai departemen pemerintahan – begitu banyak menempeli mading-mading di kampusku (dulu), ga sedikit pun hatiku tergerak untuk memasukkan satu lamaran pun. Kalaupun aku sempat melamar, itu hanya dilakukan setengah hati. Karena sebelum semua itu dilakukan, hal pertama yang kupikirkan adalah…ketika aku ‘terlanjur’ diterima di perusahaan-perusahaan itu, maka hari-hariku akan menjadi milik mereka (PeDe gitu deh bakal keterima..hehe). Lalu, kapan aku punya waktu untuk diriku sendiri dan keluargaku?

Dan sejak tanggal 27 Nov 2008 lalu, aku mulai terjebak dalam rutinitas itu. Aku sama sekali ga menyesal, karena ‘kerja di KAP’ sudah aku approve untuk masuk dalam list rencana hidupku. Makanya, walaupun semangat masuk KAP sempat naik turun, tes buat masuk KAP adalah satu-satunya tes kerja yang aku ikuti dengan serius disertai pengharapan yang besar untuk lulus