Pengalaman ringan sehari-hari, ga penting, kadang bikin teman-temanku geleng-geleng kepala, karena kadang begitu tidak pentingnya pertimbangan untuk suatu keputusan yang aku ambil.

Teman-temanku tau, aku agak ‘segan’ menyeberang jalan. Kata mereka aku takut, bukan takut, tapiiii….entahlah, seandainya aku bisa sampai di suatu sisi jalan tanpa harus menyeberang, maka aku akan mengambil opsi itu walaupun ada lebih banyak ketidakefisienan yang terjadi.

Tiba-tiba kemarin aku ingin menertawakan diriku sendiri. Menemui seseorang di Cisral (perpustakaan umum di seberang timur kampusku), mengajaknya ke suatu tempat, tapi dia menolak karena sedang asyik mengerjakan sesuatu (hmm…). Tempat yang aku tuju itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari Cisral, berada di sisi jalan yang sama dengan Cisral, tapi matahari siang itu menyengat sangat panas, dan aku pikir, “Ya udah ngangkot aja…“. Sesampainya di pinggir jalan aku mengurungkan niatku, kupikir, “Ngangkot emang lebih cepet, ga cape lagi….tapiiii….aku harus dua kali nyeberang”, karena tempat yang aku tuju itu berada beberapa ratus meter di sebelah kanan Cisral. “Ya sudah, daripada dua kali nyeberang, mending aku jalan kaki aja”. Fiuh…cape deh.