Berat dalam arti yang sebenarnya. Berat yang berarti ‘ga ringan’. Dan hari ini benar-benar hari yang berat buat aku.

Terhitung sejak 1 Oktober lalu, aku resmi jadi anak rumahan (ga ngekost – red). Enak bukan?? Iya sih…makan di rumah, tidur di rumah, ga perlu nyuci sendiri, semuanya ada yang ngurusin. Yang jadi masalah adalah….rumahku itu di Padalarang, daerah Kab. Bandung Barat, padahal aku masih harus sering berurusan dengan kampus di Kota Bandung.

Sebagai gambaran, jarak Padalarang-Bandung itu bisa ditempuh dengan angkot, paling lama (ngangkot+nunggu angkot+ngetem+macet+lain-lain)2- 3 jam sekali jalan. Jadi kalau dalam satu hari aku bolak-balik Padalarang-Bandung, seenggaknya ada 4-6 jam yang kuhabiskan hanya di perjalanan. Inefisiensi waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain. Padahal sebenarnya aku bisa melakukan hal-hal yang lebih produktif selama 6 jam itu.

Semua ini gara-gara aku salah memperkirakan waktu kelulusanku. Aku berekspektasi bisa lulus sebelum Oktober, tapi nyatanya sampai akhir Oktober nanti aku masih harus berurusan dengan kampus. Memang, tidak setiap hari aku bolak-balik rumah-kampus, tapi segala fasilitas yang kubutuhkan untuk mempersiapkan sidang ada di Bandung. Dan hari ini adalah hari ter’berat’ dalam hidupku (halah..lebay ya..hehe). Beneran lho…belum pernah aku ngegendong bawaan seberat sekarang, bahkan waktu RPS zaman SMA pun aku ga bawa beban seberat hari ini.

Hari ini aku berencana nginep di Bandung, sampai beberapa hari ke depan. Numpang (kalo ada yang mau nampung) dari satu kost ke kost yang lain.

Kegiatan pagi ini…packing barang buat beberapa hari ke depan. Ke dalam ranselku yang lumayan gede ini, kumasukkan sebuah buku intermediate accounting-nya Kieso (ya..ya..yang anak akuntansi mungkin tau seberapa berat buku ini), dua skripsi hard cover punya temenku dan satu draft skripsi punyaku, masing-masing kira-kira setebal 100 lembar yang dicetak di atas kertas A4 80 gram, dua buku perpus yang bisa dibilang lumayan kecil, bisa juga dibilang lumayan gede, tapi relatif kecil dibandingkan dengan intermediate accounting (ya iya lah..) cukup berkontribusi menambah berat tasku, dan dua buku lain yang lumayan kecil juga (tapi tetep aja nambah beraaaaatttt). Yes….semua buku udah masuk. Tapi…laptopnya??? Baju-bajunya??? Alat mandinya??? Perlengkapan ‘centil’nya??? Yang lain-lainnya??? OMG…ternyata masih banyak barang lain yang harus kubawa dalam rangka nginep ini. Jadilah ada satu tas ekstra yang harus kusiapin, untuk kebutuhan beberapa hari ke depan.

Kugendong tas…dan kurasakan kaki ini menjadi lebih berat untuk melangkah, berat menopang tubuh yang sudah bertambah berat karena barang-barang tersebut di atas.

Biasanya, aku berangkat naik bis lewat tol dari Padalarang ke Bandung, tapi (lagi-lagi) masalahnya adalah…bis itu ga tentu kapan datangnya. Kalau lagi hoki, aku bisa langsung dapat bis begitu sampai di pintu tol. Tapi….hari ini aku kurang beruntung. Hampir satu jam aku habiskan hanya untuk menunggu bis, dan selama menunggu itu aku sama sekali ga duduk dengan menggendong tas berat ituuuuhhhh (huks…huks…huks…huks…). Yah begitulah….aku selalu kesulitan tiap kali naik atau turun dari kendaraan yang kutumpangi sampai ke Bandung. Dan aku juga masih harus jalan beberapa ratus meter menuju kostan temenku yang ga dilewatin angkot. Whuaaaaa…..beraaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttt!!!!

Ya Allah ringankanlah ujian sidangku nanti…