Pernah denger cerita kepompong Ramadhan? Sebagian mungkin pernah, sebagian yang lain mungkin belum. Cerita ini kerap kali disampaikan dengan menganalogikan seseorang yang melewati Ramadhan seperti ulat yang sedang menjalani masa kepompongnya.

Kita semua tahu bagaimana ulat yang kecil dan menjijikan itu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah dan tetap menjijikan, menurutku..he..he…

Sesuatu yang menjijikan, menggelikan, bahkan bikin gatal-gatal untuk beberapa jenis ulat, bisa berubah menjadi seekor kupu-kupu (emang kupu-kupu punya ekor ya?) yang cantik, ASRI (narsis dikit deh…), dan menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Tentu saja si ulil (ulat kecil) tidak begitu saja menjadi kupu-kupu, tidak dalam waktu sekejap menjadi sesuatu yang lebih indah dan disukai banyak orang. Si ulil melewati proses yang cukup panjang. Dia harus melewati fase kepompong selama beberapa hari. Dan di dalam kepompong itulah dia melewati proses ‘perkembangan’ dan ‘perbaikan’ diri untuk menjadi sesuatu yang lebih baik (well, aku ga bermaksud bilang, kupu-kupu lebih baik daripada ulat lho…tapi kebanyakan orang sepertinya merasa lebih baik berinteraksi dengan kupu-kupu daripada ulat..hmm). Dan….taraaaa….apa yang terjadi setelah ulat keluar dari kepompong??? Ternyata kini dia menjadi BUB (Bukan Ulat Biasa..*gubrakz *), kini dia memiliki sayap yang berwarna-warni dan indah, kini dia bisa terbang, memungkinkannya mengejar mimpi di tempat yang tidak terjangkau sebelumnya, kini dia pun lebih disukai oleh banyak orang…benar-benar BUB.

Dan apa hubungannya dengan Ramadhan? Ramadhan adalah proses bagi manusia untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Selama bulan ramadhan ini lah Allah mendidik kita agar menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, agar setelah Ramadhan kita menjadi BUB (Bukan Ulat Biasa??? Bukaaaannn…tapi Bukan Umat Biasa..hekhek..). Tapi berapa banyak orang yang memanfaatkan Ramadhan sebagai sarana perbaikan dan pengembangan diri, sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT? Nyatanya, setelah kepompong Ramadhan terlewati banyak ulat manusia yang tidak berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik. Satu bulan dilewati dengan tidur dalam kepompong, tidak melakukan sesuatu yang signifikan untuk perbaikan dirinya, jadi tidak heran sebelum dan setelah Ramadhan dia tetaplah seekor ulat.

Jadi, apakah kita termasuk ulat yang berhasil melewati kepompong Ramadhan tahun ini???