Jangan harap menemukan suatu analisis ekonomi yang cerdas dan tajam mengenai krisis keuangan global dalam tulisan ini, karena aku ga sedang membahas itu (Lho kok?). Berita mengenai krisis keuangan global yang berawal dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat, yang selama beberapa hari terakhir ini selalu menjadi pemberitaan utama di media elektronik, menjadi headline di berbagai media cetak, membuatku teringat…setahun yang lalu, ketika kepala ini dipenuhi oleh berbagai alternatif topik skripsi, aku mencoba merefresh otak ini dengan mengunjungi perpus (tempat nongkrong favorit di kampus…adem sih…paling enak buat nundutan dan akhirnya tertidur..hehe) dan mengupdate informasi dengan membaca sejumlah surat kabar dan majalah. Ternyata aku tidak bisa benar-benar melepaskan pikiran ini dari skripsi, karena dengan datang ke perpus itulah justru aku kemudian menemukan ide untuk skripsiku. Suatu frase “subprime mortgage” sangat menarik perhatianku dan memancing rasa ingin tahuku saat itu. Apa sih subprime mortgage itu??? Mengapa begitu banyak pemberitaan ekonomi mengenai hal tersebut?

Berawal dari keingintahuanku itulah, aku mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang subprime mortgage. Dan mulut ini selalu membulat, membentuk huruf O..O..dan O, kepala mengangguk-angguk, kening berkerut tanda berpikir (atau pusing karena gak ngerti?!), kadang sesekali bergumam, mengulang-ulang dan mencoba meresapi setiap istilah baru, berkaitan dengan subprime mortgage. Sampai akhirnya…..aha!!!

Berawal dari ide yang teramat sangat sederhana, perjalanan panjang pun dimulai (kayaknya judul di atas udah ga relevan sama isinya…ini sih bukan ngebahas krisis keuangan global, tapi curhat soal skripsi…heuheu..)…berbulan-bulan….lama banget…karena ada satu, dua, tiga, empat, lima, dan banyak hal yang kadang tidak memuluskanku mengerjakan skripsi (Hah…mungkin kalimat ini hanya pernyataan pembenaran dari seorang mahasiswa yang ga lulus-lulus..kayak aku. Hiks..hiks..), tapi aku merasa beruntung ‘terpilih’ menjadi seseorang yang berkesempatan menjalani ‘proses’ yang kadang membuatku kelelahan dan putus asa ini. Tapi Allah ternyata selalu memberiku yang terbaik…proses adalah proses…kadang hasil agak melenceng dari ekspektasi selama proses. Tak apa.

Saking lamanya aku ngerjain skripsi – padahal kalau dilihat hasilnya, mungkin banyak orang akan berpikir, “Apa yang susah dari skripsi ini?! Kok lama banget ngerjainnya?! “ – bikin aku, lagi-lagi, ga PeDe sama ‘hasil karya’ku sendiri. Basi…itu yang pertama terlintas di pikiranku. Karena isu yang jadi latar belakang skripsiku itu lama kelamaan usang tertutup oleh isu-isu lain yang lebih hot. But…beberapa minggu terakhir…apa yang terjadi??? Isu subprime mortgage muncul lagi…dan kali ini dalam skala yang lebih besar daripada yang terjadi pada pertengahan tahun 2007. Penurunan IHSG yang lumayan dalam pada pertengahan Agustus 2007 (tanggal 15 kalau ga salah…kalo salah..ya..maappp) belum apa-apa dibandingkan dengan penurunan IHSG selama tiga hari terakhir ini. Sejak bursa saham dibuka kembali pada tanggal 6 Oktober 2008, setelah tutup selama sepekan karena libur hari raya, hingga tengah hari tanggal 8 Oktober 2008, IHSG telah menunjukkan penurunan lebih dari 20%. Dan yang lebih mengejutkan, pada tanggal 8 Oktober 2008, terjadi penghentian perdagangan sementara (suspensi, pertama kali dalam sejarah, sejak bursa efek beroperasi di Indonesia, katanya…) di tengah-tengah perdagangan sesi 1, karena IHSG menunjukkan penurunan yang sangat tajam, mencapai 10,38%, atau mencapai titik terendah pada level 1451,66 selama dua tahun terakhir. Penurunan yang lebih dari 10% disertai kapitalisasi pasar yang tidak lebih dari Rp 1M membuat BEI berkesimpulan, “Ada yang tidak beres”, jangan tanya aku, “Apa yang ga beres??”. Aku masih belajar. Hehe..alasan pembenaran lagi. Pemerintah (seolah-olah terlihat) tidak panik, Pak SBY senantiasa menghimbau agar masyarakat tidak panik dan berpikir cermat sebelum bertindak di pasar. Himbauan dari pemerintah itu dilengkapi/didukung berbagai data dan informasi yang menunjukkan kekuatan fundamental perekonomian Indonesia, atau dengan membanding-bandingkan, betapa Indonesia tidak lebih kacau dari negara-negara lain yang juga mengalami ancaman krisis yang sama. Terserah deh apa kata pemerintah, faktanya himbauan itu tidak bisa mencegah IHSG untuk tidak turun ke level 1400an, tidak bisa mencegah BI untuk tidak menaikkan BI rate sebesar 25 bsp ke angka 9.5%, tidak bisa mencegah bursa untuk tidak tutup pada pertengahan sesi 1 tanggal 8 Oktober 2008 kemarin, tidak bisa mencegah rupiah untuk tidak meluncur melewati batas psikologis 9.500 per dollar AS. Nyatanya, Pemerintah (kayaknya) panik, rapat kabinet diadakan khusus untuk membahas krisis ini, rapat terbatas pun ga bisa nggak diselenggarakan bahkan setelah Presiden mengadakan NoBar Laskar Pelangi (hehe..penting ya ngebahas NoBar?!), Presiden menghimbau buyback kepada beberapa BUMN, beberapa kali dalam empat hari terakhir ini, Presiden, BI, Menkeu, de el el secara bergantian mengadakan jumpa fans..eh…memberikan informasi kepada pers terkait dengan kebijakan untuk mengatasi krisis ini. Benarkah masyarakat tidak perlu panik? Nyatanya masyarakat kebanyakan memang tidak begitu panik. Krisis ini bukan berasal dari kekacauan di negeri sendiri seperti yang terjadi 10 tahun yang lalu. Krisis ini bersumber dari suatu negeri nun jauuuuhhh disana yang disebut-sebut sebagai motor penggerak ekonomi (kapitalisme) dunia. Jadi bukan tidak mungkin suatu saat nanti masyarakat Indonesia pun akan mengalami dampaknya, walaupun kecil. Dan saat itu terjadi, kebanyakan masyarakat (miskin) Indonesia mungkin hanya tahu satu kata “Krisis”, tanpa mereka tahu, apa maknanya. Hah…ga perlu tahu juga kali…ngapain mikirin yang berat-berat, bisa bertahan hidup dengan bisa makan dan hidup layak aja mungkin udah cukup bagi mereka. Saat ini kebanyakan masyarakat Indonesia memang tidak panik dan tidak menahu soal krisis keuangan global ini, sampai ada suatu percakapan dengan seseorang yang membuatku agak ‘gubrakz’. Terjadi ketika aku sedang membaca berita tentang Lehman Brothers, dan dengan polosnya dia bertanya, “Apaan tuh Lehman Brothers?”, dari situ aku sadar, bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya memang tidak menyadari adanya peristiwa yang membuat si Mbah Sam, batuk, pilek, demam, dan flu ga brenti2.

Ya sutra lah….aku ga peduli kalau orang-orang ga peduli soal ini, yang penting aku peduli, karena berita ini sedikitnya nyangkut ma skripsiku..huks..huks..huks…(tiba-tiba jadi ‘egois’ he..he.. karena  kehabisan ide buat nulis lagi, semakin ga nyambung kan?…jam 01.03 pagi; 10 Oktober 2008)…Pagi ini katanya BEI buka lagi..kita ikuti perkembangan pasar berikutnya.