Hari ini berkesempatan nonton film Laskar Pelangi…

Film yang memang udah ditunggu banyak…bahkan sangat banyak orang (termasuk aku), menyusul kesuksesan novelnya yang sangat menginspirasi.

Ga berlebihan banyak pihak menyebutnya sebagai “Movie of the year”, karena ternyata filmnya pun tidak kalah sukses dengan novelnya.

Salut buat Miles dan Mizan, juga buat Andrea Hirata dengan pengalaman masa kecilnya yang luar biasa. Walaupun film ini tidak sama persis dengan novelnya, tapi aku sama sekali ga kecewa. Karena dari awal pemberitaan novel ini akan difilmkan pun, aku ga pernah berekspektasi filmnya akan sama persis dan sedetail novelnya. Film dan novel memang dua hal yang tidak bisa disamakan, karena keduanya menggunakan dua media yang berbeda. Namun justru, film yang aku tonton sungguh di atas ekspektasiku, sangat menghibur dan mengharukan, membuatku tertawa terbahak-bahak dan menangis tersedu-sedu sekaligus dalam durasi 2 jam itu. Dan yang terpenting, pesan yang ingin disampaikan Andrea Hirata dalam novelnya tersampaikan dalam film.

Di tengah gempuran film Indonesia yang bertemakan cinta, horror, dan komedi dewasa yang menjijikkan dan (menurutku) tidak mendidik (walaupun pembuat film menganggapnya sebagai suatu media untuk memberikan pendidikan seks kepada para penontonnya), film ini mampu memberikan warna baru bagi dunia perfilman di Indonesia. Mengangkat isu penting (PENDIDIKAN) yang seringkali terabaikan karena pemerintah terlalu memperhatikan isu lain yang kadang kurang krusial.

Semoga semakin banyak orang yang melek, betapa memprihatinkannya kondisi pendidikan di Indonesia. Walaupun film ini mengambil latar tahun 1970an, tapi sampai sekarang pun kondisi pendidikan yang memprihatinkan masih dialami oleh banyak orang di negeri ini – kondisi sekolah yang reyot, yang lebih layak dijadikan kandang kambing, kondisi guru yang tidak memadai, secara kualitas maupun kuantitas, kondisi para siswanya yang pada akhirnya banyak yang putus asa karena berpikir sekolah pun tidak akan mengubah kehidupan mereka.

Saat ini aku hanya seorang pengamat, tanpa tindakan (kadang merasa 22 tahunku sia-sia). Semoga Allah memberiku umur lebih untuk ikut berkontribusi memperbaiki negeri ini.