Seseorang bercerita kepadaku…mungkin tentang cinta karena aku sendiri tidak bisa mendefinisikan arti kata ‘cinta’ itu sendiri. Suatu tema yang selalu hangat dibicarakan, dimanapun, karena cinta adalah bahasa universal, tidak butuh kata untuk mengungkapkannya, bahasa tubuh bahkan bisa mengatakan segalanya.

Seseorang itu adalah orang yang sangat dekat denganku. Ada-ada saja masalah ‘cinta’ yang dialaminya. Selalu saja ada cerita tentang ‘cinta’ ketika berbincang-bincang dengannya. Suatu waktu dia bercerita, “Aku baru jadian sama si A”, di lain waktu, lain lagi ceritanya “Aku putus sama si A”, ternyata , “Aku dikhianati”, tapi kemudian, “Aku menjalani hubungan tanpa status dengan si A”, belum selesai sampai disitu, dia pun bercerita, “Aku benar-benar mengakhiri hubungan dengan si A”, tapi setelah itu dia menangis-nangis di hadapanku dan berkata, “Aku masih mengharapkan si A, aku ga bisa ngelupain dia”. Ada-ada saja…selama lebih dari empat tahun terakhir selalu si A yang menjadi masalah ‘cinta’ temanku ini. Aku pikir, tidak adakah seseorang yang lain yang lebih layak untuk dia bicarakan? Menurutku, temanku terlalu berlebihan mencintai si A. Dia masih mau menerima si A walaupun berkali-kali disakiti, dia rela mengorbankan waktu dan tenaga demi si A, terlalu banyak air mata yang dia tumpahkan hanya untuk menangisi si A, bodoh!!! Padahal di mataku si A pun tidak lebih baik dari lebih banyak lelaki lain yang kukenal. Dan aku merasa temanku pantas mendapat seseorang yang jauh lebih baik dari si A. Tapi itulah cinta (mungkin), sangat sulit untuk menjelaskan perilaku orang yang sedang di mabuk cinta. Jika sudah cinta, kekurangan si dia yang sebesar gajah di pelupuk mata pun seolah-olah tak terlihat. Ga rasional, kadang ga masuk akal, dan benar kata pamongku dulu, “Tai kucing rasa coklat.”

Tapi benarkah itu cinta? Atau hanya nafsu?
Dalam sebuah buku, dibahas tentang tiga tingkatan cinta. Cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah di atas segalanya. Cinta menengah adalah mencintai sesuatu atau seseorang selain Allah, tapi didasari cintanya kepada Allah. Cinta terendah adalah mencintai sesuatu atau seseorang tanpa didasari cinta kepada Allah, alias ‘nafsu’.

Dikaitkan dengan kasus temanku ini, aku bertanya-tanya, “Jadi pada tingkatan cinta yang manakah temanku ini mencintai si A?”

Lain waktu…

Beberapa bulan tidak bertemu, suatu kali aku bertemu lagi dengannya, dan obrolan tentang ‘cinta’ lagi-lagi selalu jadi bahan yang menarik untuk dibicarakan. Kali ini lain lagi ceritanya, “Aku bertemu dengan si B, sejak bertemu dengannya, aku benar-benar bisa melupakan si A”, Baguslah, rupanya temanku ini sudah menyadari kekeliruannya mencintai seseorang yang menurutku tidak baik untuknya, tapi mengapa harus dengan cara bertemu si B? Dalam hati aku berpikir, akan ada cerita cinta lain yang akan menghiasi atau justru merusak hari-hari dia selanjutnya. “Tapi aku ga tau apakah hal itu terjadi karena aku menyukai si B, atau hanya karena si B memiliki suatu kriteria khusus yang juga dimiliki si A?!”. Fiuh…lagi-lagi…dia menghubung-hubungkan seseorang yang ditemuinya dengan si A. Aku hanya tersenyum, ga berani menjawab, ga berani berkomentar, karena aku sendiri tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang cinta. Biarlah dia yang menjalaninya, sampai dia sadar betul bahwa cinta yang tertinggi hanya untuk Allah, dan cinta-cinta yang lain akan datang seiring dengan kecintaannya kepada Allah.