“Anak Ibu Gorengan yang SMP udah berhenti sekolah”. Suatu hari temanku berkata.

Aku tersentak…baru beberapa minggu sebelumnya aku berbincang-bincang dengan Ibu Gorengan, seorang ibu yang setiap hari menjajakan gorengannya di sekitar kampus kami.

Saat itu Ibu menceritakan kondisi keluarganya. Seorang anak laki-lakinya yang kini berusia 18 tahun ikut membantunya berjualan gorengan di kampus FH, dia sudah putus sekolah sejak SD.

Seorang anak perempuannya yang paling kecil masih bersekolah di TPA dan sudah 3 bulan menunggak biaya sekolah. Aku bertanya, “Berapa Bu biayanya sebulan?”

“15 ribu Neng”, si Ibu menjawab. Aku hanya menghela nafas. Aku merenung. Dalam hati aku berkata, “Sekedar 15 ribu per bulan?! Dan Ibu Gorengan tidak bisa memenuhinya. Sementara aku…sekali atau dua kali makan pun bisa habis 15 ribu.”

“Terus hasil jualan gorengan sehari bisa dapat berapa Bu?”, aku kembali bertanya.

“Ga tentu Neng. Ibu kan ngambil gorengan dari orang lain, harganya Rp 400 per buah, terus Ibu jual lagi Rp 500, sekarang aja masih banyak gorengan yang belum kejual. Belum lagi sebentar lagi puasa, sebulanan itu Ibu ga jualan, jadi ga ada pemasukan.”

“Ooh..Ibu ngejual punya orang…kenapa ga pake modal sendiri aja Bu?”

“Mahal atuh Neng…ga ada modal, seenggaknya kan butuh 100-200 ribu, apalagi sekarang minyak mahal.”

Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas sambil merenung…

“Dari satu gorengan, Cuma dapat Rp 100. Kalau dalam sehari si Ibu menjual 100 gorengan, berarti cuma dapat Rp 10.000. Si Ibu butuh modal minimal Rp 200 ribu untuk memulai usahanya sendiri. Bahkan pengeluaranku sebulan bisa jauh lebih banyak dari itu.”

“Terus anak kedua gimana Bu?”

“Masih SMP, tapi udah beberapa kali bilang pengen berhenti sekolah.”

“Jangan sampai berhenti sekolah Bu, seenggaknya selesaiin dulu SMPnya, rezeki bisa datang dari mana aja. InsyaAllah saya dan teman-teman pun bisa bantu.”

Hanya itu yang bisa kuucapkan…sebuah janji untuk membantunya.